Antara Tradisi dan Ajaran Islam Dalam Menyambut Ramadan
- 09 Mar 2024 17:08 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Balimau adalah tradisi mandi yang menggunakan jeruk nipis dan berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau. Tradisi ini biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian. Balimau telah berlangsung selama berabat abat dan diwariskan turun temurun. Sebenarnya balimau adalah satu kata yang mengandung satu kegiatan bernuansa tradisi yang di Minangkabau, baik pada masa dahulu maupun sekarang. Kegiatan ini dilakukan jelang ramadan Biasanya kegiatan ini dilakukan selang satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. Dalam terminologi orang Minang, Balimau adalah mandi menyucikan diri (mandi wajib, mandi junub) dengan limau (jeruk nipis).
Sementara ramuan yang di gunakan untuk balimau melibatkan ramuan alami beraroma wangi dari daun pandan wangi, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu, yang direndam dalam air suam-suam kuku. Kemudian, ramuan ini disiram ke kepala, dan dilanjutkan ke seluruh badan. SebenarnyaTradisi balimau bertujuan untuk kebersihan hati dan juga kebersinan raga atau badan dalam rangka mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa. Jadi tradisi balimau diharapkan adalah untuk mengeratkan tali silaturahmi dan mensucikan diri sejalan dengan ajaran agama Islam untuk memasuki bulan suci ramadan.
Sedangkan menurut Ketua Majelis Ulama Sumatra Barat, Buya Gusrizal Gazahar, tradisi balimau merupakan kebiasaan yang berakar sebelum masuknya islam. Namun, dari sudut pandang agama,tradisi balimau tidak dianggap sebagai bagian dari ajaran islam dalam menyambut ramadan . Buya Gusrizal Gazahar menegaskan bahwa mandi balimau seharusnya tidak dilakukan oleh masyarakat menjelang Ramadhan. Ia berpendapat bahwa membersihkan diri dapat dilakukan di rumah, dan tradisi ini sebaiknya ditinggalkan. Selain itu, momen ini sering dimanfaatkan untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, seperti mandi beramai-ramai di sungai yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Buya Gusrizal Gazahar juga mengajak masyarakat lebih memperbanyak ibadah dan melakukan hal hal yang bermanfaat dalam menyambut ramadan.
Jadi, meskipun tradisi balimau memiliki akar budaya yang kuat, ulama menyarankan agar kita lebih fokus pada ibadah dan nilai-nilai agama dalam menyambut bulan suci Ramadhan.(ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....