Mengapa Waktu Terasa Lebih Cepat saat Ramadhan
- 11 Feb 2026 09:31 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi- Banyak orang merasa Ramadan seolah tiba dan berlalu begitu cepat, meskipun secara objektif waktunya tetap 30 hari. Perasaan ini bukan sekadar imajinasi, tetapi berkaitan dengan bagaimana otak kita memproses waktu dan pengalaman saat bulan suci tersebut.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa persepsi waktu bukan hanya soal jam atau kalender, tetapi juga tentang seberapa banyak perhatian yang kita berikan pada momen-momen tertentu. Semakin fokus kita pada aktivitas atau rutinitas yang menyita perhatian, semakin cepat waktu terasa berlalu. Ketika Ramadan penuh dengan ibadah, kegiatan sosial, dan rutinitas baru, otak kita cenderung “terserap” dalam pengalaman tersebut sehingga waktu terasa cepat.
Selain itu, persepsi waktu yang cepat bisa terjadi karena otak tidak mencatat banyak kejadian baru saat kehidupan terasa rutin atau sibuk, sehingga memori yang terbentuk lebih sedikit. Penelitian lain menunjukkan bahwa hal ini sering terjadi pada momen tahunan seperti Ramadan atau hari besar lain karena rutinitas yang sudah berulang setiap tahun.
Beberapa studi juga menghubungkan fenomena ini dengan bagaimana otak memproses pengalaman yang menyenangkan atau bermakna secara emosional. Ketika kita menikmati momen bersama keluarga saat sahur atau berbuka, atau tenggelam dalam ibadah dan refleksi batin, pengalaman itu terasa “mengisi” waktu secara penuh sehingga saat dikenang, waktu terasa berlalu sangat cepat. Sebaliknya, saat kegiatan terasa monoton, waktu rawan terasa lambat.(STP)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....