Fauzi Abdul Rahman, Jurus Hidup Karateka Asal Kecamatan Tilatang Kamang

  • 07 Jul 2026 09:04 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Olahraga bela diri karate ternyata tidak hanya tentang ketangkasan fisik seperti pukulan dan tendangan, melainkan juga menyimpan filosofi mendalam tentang seni menjalani kehidupan. Hal ini dikupas tuntas dalam program Pro 2 Sport yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube RRI Bukittinggi.

Pro 2 Sport kali ini menghadirkan Fauzi Abdul Rahman, seorang pelatih karate asal Kecamatan Tilatang Kamang Kabpaten Agam, sekaligus Wasekum FORKI Sumbar, bincang-bincang hangat ini mengulik bagaimana karate dapat membentuk karakter seseorang menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai tekanan dan tantangan sehari-hari.

Fauzi menceritakan bahwa kecintaannya pada karate berawal dari paksaan orang tua saat dirinya masih duduk di bangku kelas 2 SD. Siapa sangka, kedisiplinan latihan olahraga ini justru menyembuhkan penyakit asma akut yang diidapnya sejak kecil. Lebih dari sekadar kesehatan fisik.

Fauzi menekankan pentingnya lima sumpah karate yang mengajarkan kejujuran, kesopanan, kerja keras mengejar prestasi, serta penguasaan diri. Uniknya, gerakan karate justru lebih banyak didominasi oleh teknik tangkisan daripada pukulan, sebuah filosofi nyata yang mendidik manusia untuk selalu mengendalikan emosi dan mengutamakan perdamaian alih-alih mencari musuh.

Pro 2 Sport yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube RRI Bukittinggi.

Sebagai seorang pelatih, tantangan terbesar Fauzi saat ini adalah membentuk mental dan kedisiplinan generasi muda di tengah gempuran era digital dan gadget. Menurutnya, kegagalan dalam sebuah pertandingan bukanlah akhir segalanya, melainkan peluang berharga untuk mengevaluasi diri agar bisa mundur selangkah demi maju seribu langkah.

Fauzi juga menjabarkan filosofi mendalam mengenai tingkat sabuk hitam, yang baginya bukanlah lambang kesombongan atau puncak kejayaan, melainkan sebuah titik balik yang mengingatkan seseorang untuk menurunkan ego dan kembali belajar dari awal.

Melalui pesan penutupnya, Fauzi mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa memiliki jurus pamungkas dalam hidup, yaitu kesanggupan untuk menguasai diri sendiri. Dengan mengenali kekurangan dan memaksimalkan kelebihan yang dimiliki, setiap orang dapat mengarahkan hidupnya menuju kesuksesan yang hakiki tanpa perlu membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Seni bela diri pada akhirnya adalah tentang mengenali jati diri dan menjadi pribadi berkarakter yang terus menebar manfaat serta kebaikan bagi sesama. (NAS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....