Irman Gusman,MBA; Kepercayaan Publik Perkuat Jejaring Kemanusiaan MDMC
- 13 Sep 2026 21:55 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Jogyakarta - Senator RI asal Sumatera Barat Irman Gusman,MBA mendorong Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memastikan jejaring relawan, logistik, layanan kesehatan, dan pembiayaan siap digerakkan sebelum krisis. Melalui gagasan MDMC 4.0, ia mengajak Muhammadiyah mengubah kepercayaan publik menjadi kemampuan nyata untuk melindungi warga dan mempercepat pemulihan kehidupan mereka.
Gagasan itu disampaikan Irman saat menjadi keynote speaker dihadapan ratusan peserta, terdiri atas pimpinan dan anggota LRB-MDMC PP Muhammadiyah serta pengurus MDMC wilayah dari seluruh Indonesia, untuk memperkuat arah kerja penanggulangan bencana Muhammadiyah yang diselenggarakan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Seni dan Budaya, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).
Pada saat pembukaan Rakernas hari Jumat (11/9/2026), diisi dengan sambutan Ketua LRB-MDMC PP Muhammadiyah H. Budi Setiawan, S.T., pidato Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., serta amanah dan pembukaan Rakernas oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.
Irman Gusman yang saat ini juga sebagai Ketua Dewan Penasehat MDMC Sumatera Barat menegaskan bahwa posisi MDMC menjadi semakin strategis karena berada di bawah payung besar Muhammadiyah, organisasi yang selama ini memiliki akar kuat di tengah masyarakat dan tingkat kepercayaan publik yang tinggi. Sementara itu jejaring menjadi faktor penting karena penanggulangan bencana tidak mungkin dilakukan oleh satu lembaga saja. Pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, komunitas, hingga masyarakat di tingkat akar rumput memiliki sumber daya dan kapasitas yang dapat saling melengkapi.
“Kepercayaan publik adalah modal sosial. Namun kepercayaan itu harus diubah menjadi kapasitas, kemampuan menghubungkan sumber daya, mengambil keputusan, dan menggerakkan bantuan secara cepat ketika masyarakat membutuhkan,” ujar Irman.
Urgensinya terlihat dalam World Risk Index 2025 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga dari 193 negara, dengan skor 39,80. Dan Filipina menempati peringkat pertama dengan skor 46,56, disusul oleh India di posisi kedua dengan skor 40,73. Indeks ini mengukur risiko melalui paparan bahaya dan kerentanan masyarakat, termasuk keterbatasan kemampuan menghadapi serta beradaptasi terhadap bencana. Artinya, penguatan kesiapan masyarakat merupakan bagian penting dari upaya menurunkan risiko.
Ketua DPD RI ke 2 ini menjelaskan bahwa arah penguatan itu sebagai MDMC 4.0 atau Integrated Humanitarian and Resilience Network, yakni jejaring kemanusiaan dan ketangguhan yang terintegrasi. Istilah tersebut merupakan gagasan pengembangan, bukan nomenklatur resmi organisasi. Konsepnya melanjutkan penguatan tanggap darurat, manajemen bencana, dan pembangunan ketangguhan yang telah berjalan.
Dalam gagasan ini, MDMC menjadi penghubung kekuatan Muhammadiyah dengan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, media, dan komunitas. Sekolah, rumah sakit, masjid, serta jaringan relawan dapat saling menopang sejak kesiapsiagaan hingga pemulihan mata pencaharian masyarakat, ulas Ketua Dewan Pengawas Ikatan Keluarga Minang ( IKM ) itu
Modal kelembagaan tersebut juga mendapat apresiasi pemerintah. Pada pembukaan Rakernas, Jumat (11/9), Menko PMK Pratikno menilai jaringan amal usaha Muhammadiyah memiliki peran penting dalam keselamatan warga, dengan sekolah, kampus, rumah sakit, dan klinik yang saling mendukung penanganan bencana.
Menurut Kertua Dewan Pakar majelis Ekonomi dan UMKM PP Muhammdiyah menjelaskan bahwa jejaring perlu memiliki trigger mechanism, yakni mekanisme pemicu tindakan yang disepakati sebelum krisis. Protokolnya harus menjelaskan data yang digunakan, pihak yang berwenang mengaktifkan jejaring, pembagian peran, pengerahan sumber daya, serta pertanggungjawaban kepada publik. Dengan demikian, koordinasi tidak perlu dimulai dari nol setiap kali bencana terjadi.
“Yang penting bukan hanya siapa yang bergerak, tetapi bagaimana semua kekuatan yang ada bisa segera bergerak ketika dibutuhkan. Itulah pentingnya trigger mechanism,” ujarnya.
Irman juga mengingatkan pentingnya menempatkan mitigasi sebagai investasi pembangunan. Kajian Bank Dunia dan GFDRR tentang infrastruktur tangguh memperkirakan manfaat sekitar empat dolar untuk setiap satu dolar yang diinvestasikan di negara berpendapatan rendah dan menengah. Manfaatnya mencakup berkurangnya kerusakan serta gangguan layanan yang menopang kehidupan dan kegiatan ekonomi.
“Mitigasi dan kesiapsiagaan adalah investasi untuk melindungi kehidupan, menjaga layanan publik, dan mempertahankan keberlanjutan ekonomi. Setiap rupiah yang dikeluarkan sebelum bencana harus diarahkan untuk mengurangi kerugian dan mempercepat pemulihan,” tegasnya
Oleh karena itu, diharapkan Rakernas ini dapat memperkuat kerja bersama yang ditopang pelatihan yang berkala, standar kerja, sumber daya, dan indikator keberhasilan. Perlindungan warga perlu berlanjut hingga layanan kesehatan, dukungan psikososial, dan mata pencaharian masyarakat pulih.
“Bencana memang tidak selalu bisa kita cegah, tetapi dampaknya bisa kita kurangi. Karena itu, kita harus memperkuat kesiapsiagaan, memperluas jejaring, dan memastikan setiap kekuatan dapat bergerak bersama ketika kemanusiaan membutuhkan,” tutup ketua Dewan Pembina Pusat Kebudayaan Minangkabau.
Sebagai Informasi rangkaian Rakernas selama 3 hari ini , berakhir pada hari Minggu 13 September 2026 dan ditutup oleh Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Palang Merah Indonesia (PMI).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....