Irman Gusman Bekali Wisudawan UIN Mahmud Yunus Hadapi Dunia Kerja dengan 5 Kunci
- 04 Sep 2026 17:52 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Batusangkar - Ada lima hal yang perlu dimiliki generasi muda untuk menghadapi dunia kerja yang terus berubah: Brain, Dream, Spirit, Confident, dan Pray. Lima prinsip itu disampaikan Senator RI Irman Gusman saat menjadi pemateri dalam Pelatihan Pengembangan Karir dalam Menghadapi Dunia Kerja bagi Wisudawan ke-60 UIN Mahmud Yunus Batusangkar, Jumat (4/9/2026).
Mantan ketua DPD RI dua periode itu mengatakan, dunia kerja kini tidak lagi hanya menuntut ijazah, tetapi juga kompetensi, kemampuan beradaptasi, pengalaman, dan karakter. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, otomasi, dan ekonomi digital membuat kebutuhan keterampilan terus berubah.
Gambaran itu terlihat dari Future of Jobs Report 2025 World Economic Forum yang memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan pekerja akan berubah atau menjadi kurang relevan hingga 2030. Di Indonesia, tantangan tersebut juga tercermin dari sekitar 1,03 juta penganggur berpendidikan D4 hingga S3 berdasarkan data BPS Mei 2026.
Lebih lanjut, Irman Gusman mengatakan perubahan itu tidak seharusnya membuat lulusan pesimistis. Justru, lulusan perlu mengubah cara pandang dari sekadar mencari pekerjaan menjadi mencari peluang untuk menciptakan nilai.
Karena itu, ia mengajak para wisudawan tidak berhenti pada pertanyaan “akan bekerja di mana?”, tetapi mulai bertanya, “kemampuan apa yang saya miliki, masalah apa yang bisa saya selesaikan, dan nilai apa yang bisa saya ciptakan?”
Untuk menjawab pertanyaan itu, Ketua Dewan Pakar Bidang Ekonomi UMKM PP Muhammadiyah itu merangkum lima kunci sukses yang perlu dibangun dan diraih oleh generasi muda, khususnya wisudawan UIN Mahmud Yunus.
Pertama, Brain, yakni terus belajar dan membangun kompetensi. Di tengah perkembangan AI, kemampuan berpikir kritis semakin penting. Lulusan perlu mampu membaca data, memahami konteks, memecahkan masalah, dan menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
“Gunakan AI, kuasai teknologi, dan pelajari data, tetapi jangan lalu mengandalkan bahkan menyerahkan kemampuan berpikir sepenuhnya kepada chatbot atau AI,” katanya.
Kedua, Dream, yaitu memiliki mimpi dan visi. Menurut Irman, karier tidak semata-mata tentang mengejar jabatan, tetapi tentang menentukan persoalan yang ingin diselesaikan dan nilai yang ingin diberikan.
Ketiga, Spirit, yakni ketangguhan untuk terus bergerak meski menghadapi kegagalan. Irman menilai, kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses untuk belajar dan bertumbuh.
“Jangan takut gagal. Dari kegagalan, kita belajar apa yang harus diperbaiki dan bagaimana melangkah lebih baik,” ujarnya.
Keempat, Confident. Kepercayaan diri, kata Irman, bukan merasa lebih hebat dari orang lain, melainkan keberanian untuk mencoba, belajar, dan bertanggung jawab. Hal itu dibangun melalui karya, pengalaman, portofolio, kemampuan berkomunikasi, dan jejaring.
Terakhir, Pray. Setelah membangun kemampuan, visi, semangat, dan kepercayaan diri, seluruh ikhtiar perlu disertai doa dan tawakal.
“Doa bukan pengganti kerja, dan tawakal bukan alasan untuk pasif,” kata Irman.
Lima prinsip tersebut, lanjut Irman, pada akhirnya harus mendorong lulusan dari pencari kerja menjadi pencipta nilai. Perguruan tinggi tidak hanya perlu melahirkan lulusan yang siap mengisi pekerjaan yang tersedia, tetapi juga generasi yang mampu melihat persoalan dan menciptakan solusi.
Menutup pemaparannya, Irman berpesan agar generasi muda tidak takut menghadapi perubahan dan tidak berhenti belajar. Menurut dia, masa depan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dipelajari hari ini, tetapi oleh keberanian untuk terus berkembang, mencoba, dan memberi manfaat.
“Generasi muda harus berani bermimpi, berani mencoba, dan berani menghadapi perubahan. Jangan takut tertinggal, karena yang paling penting adalah terus belajar, terus bergerak, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkas Irman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....