Pertemuan Ranah Rantau Membumikan Cetak Biru An-Nisa’
- 23 Mei 2026 06:45 WIB
- Bukittinggi
Dr. IRWANDI NASHIR
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh/Dosen UIN Bukittinggi
RRI.CO.ID,Jakarta - Pertemuan tokoh Minangkabau sedunia yang diinisiasi oleh Minang Diaspora Network-Global (MDN-G) di Jakarta, Sabtu (23/5/2026), merupakan sebuah panggilan sejarah yang krusial. Di tengah derasnya arus disrupsi global yang kian mencabut akar budaya dan spiritualitas manusia modern, momentum bertema “Mufakat Ranah dan Rantau: Membangun Nagari-Menguatkan Jati Diri” ini sejatinya menjadi sebuah ruang muhasabah yang mendalam.
Pertemuan strategis ini menghentak kesadaran sosiologis kita, sekaligus bertindak sebagai antitesis dari kekhawatiran runtuhnya modal sosial kultural. Ia mengundang sebuah refleksi kritis: sejauh mana dialektika ranah dan rantau mampu menjawab kompleksitas problem kontemporer di Minangkabau hari ini?
Secara sosio-kultural, eksistensi peradaban Minangkabau ditopang oleh struktur dwi-tunggal yang dinamis, yaitu ranah (tanah asal) dan rantau (wilayah migrasi). Rantau dalam memori kolektif urang awak bukan sekadar ruang geografis pelarian ekonomi demi kelangsungan materi.
Rantau adalah laboratorium intelektual dan mentalitas tempat karakter ditempa, sejalan dengan adagium luhur, "pariuak dialiah, makonya masak". Ketika para tokoh global, ulama, akademisi, sastrawan, hingga kaum filantropis bersimpuh bersama, ada manifesto moral-kultural yang sedang ditegaskan. Hubungan ini membuktikan bahwa ikatan emosional-spiritual masyarakat Minang tidak pernah terputus oleh jarak. Rantau tetap memikul tanggung jawab moral dan syar'i untuk menyuburkan ranah, sementara ranah harus terus dirawat sebagai episentrum spiritual yang tak boleh kering.
Membaca Realitas Pahit di Kampung Halaman
Namun, di balik optimisme mufakat tersebut, sosiologi Minangkabau hari ini sedang berhadapan dengan tantangan internal yang sangat serius. Ada gejala keretakan laten dalam transmisi nilai filosofis Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) di tingkat akar rumput. Gelombang modernitas, digitalisasi yang tidak terarah, serta penetrasi budaya kosmopolitan secara perlahan menggeser orientasi spiritual generasi muda di nagari.
Institusi tradisional seperti surau dan lapau, yang dahulu berfungsi sebagai kawah candradimuka pembentukan karakter (character building) serta kecerdasan tekstual-kontekstual, kini mengalami marjinalisasi fungsi. Akibatnya, nagari kerap dicitrakan hanya sebagai wilayah administratif yang tertinggal dalam peta pembangunan makro, sementara lompatan peradaban seolah-olah hanya terjadi di luar sana.
Di sinilah relevansi agenda MDN-G menemukan momentumnya. Forum ini tidak sekadar terjebak pada narasi ekonomi-teknokratis yang dingin, melainkan menyentuh akar literasi dan intelektualisme Islam.
Keputusan panitia untuk memamerkan buku-buku Minangkabau serta menganugerahkan penghargaan kepada tokoh sastra sekelas Pak Taufiq Ismail, serta pemikir adat-keagamaan seperti Tan Sri Rais Yatim dan Buya Mas’oed Abidin, merupakan langkah strategis dekolonisasi epistemologis. Ini adalah bentuk perlawanan kultural terhadap amnesia sejarah. Ranah Minang sejak dahulu dikenal sebagai rahim genetis bagi lahirnya para pemikir, konseptor, ulama, dan diplomat bangsa karena tradisi membaca serta berdebatnya yang hidup. Menghidupkan kembali tradisi intelektual profetik ini di nagari-nagari adalah syarat mutlak jika kita merindukan lahirnya kembali karakter tangguh sekelas Buya Hamka, Mohammad Hatta, Tan Malaka, atau Mohammad Natsir.
Cetak Biru An-Nisa’ untuk Pembangunan Nagari
Untuk mengatasi krisis nilai dan ketimpangan struktural tersebut, kita harus keluar dari sekadar narasi normatif yang kering. Ikhtiar membangun nagari memerlukan sebuah landasan teologis-sosiologis yang kokoh. Dalam konteks inilah, Al-Qur'an Surah An-Nisa’ hadir memberikan jawaban konkret. Surah An-Nisa’ bukan hanya panduan spiritual yang melangit, melainkan sebuah peta besar (blueprint) pembangunan sosial Islam yang menawarkan prinsip universal: keadilan struktural, perlindungan kelompok lemah, kesetaraan gender, jaminan sosial, dan moralitas publik. Nilai-nilai universal surah ini harus diinternalisasikan ke dalam sistem sosiologi Minangkabau modern melalui lima kerangka program strategis.
Pertama, program perlindungan anak yatim dan kaum rentan, yang memberikan afirmasi terhadap kelompok marginal di nagari melalui pendampingan sosial dan jaminan kesejahteraan. Kedua, keadilan gender Islami dengan mengarusutamakan penghormatan terhadap hak-hak perempuan (bundo kanduang) dalam bidang pendidikan, kepemimpinan, dan perlindungan hukum. Ketiga, literasi moral dan keluarga untuk menjawab krisis nilai di kalangan generasi muda melalui pendekatan edukatif yang progresif, guna membentengi nagari dari penetrasi penyimpangan perilaku sosial yang merusak. Keempat, penguatan jaringan sosial umat berbasis komunitas dan rumah ibadah, selaras dengan mandat Surah An-Nisa’ ayat 36 yang menyerukan kepedulian total terhadap tetangga dan kaum miskin. Kelima, program rehabilitasi dan inklusi sosial yang menawarkan ruang hidup layak bagi individu dengan keterbatasan mental dan intelektual melalui skema pemberdayaan yang terstruktur.
Sinergi Filantropi dan Khidmat Integratif
Tantangan nyata ini tentu membutuhkan dukungan kapital dan komitmen kuat dari para filantropis Muslim asal rantau, seperti Nurhayati Subakat, Yendra Fahmi, dan Jurnalis Uddin. Model kedermawanan sosial berbasis kaum (corporate and individual philanthropy) yang ditransformasikan menjadi gerakan modern terorganisir adalah jawaban nyata atas keterbatasan pembangunan formal pemerintah. Sinergi kapital dari rantau yang dikelola secara amanah, akuntabel, dan transparan harus dialokasikan untuk mendanai lima pilar program An-Nisa’ tersebut di tingkat akar rumput.
Namun, gerakan membangun nagari tidak boleh terjebak pada pendekatan top-down yang mekanistik, di mana pihak rantau mendikte total pihak ranah. Sebaliknya, harus terjadi dialog emansipatif. Potensi lokal, kearifan ekologis (ecosophy) Minangkabau, dan struktur kepemimpinan Tungku Tigo Sajarangan (Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai) di nagari harus ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan.
Mufakat ranah dan rantau yang bersendikan semangat Al-Qur'an sejatinya ikhtiarkan untuk menawarkan sebuah formula sosiologis yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia bahwa kemajuan sebuah peradaban modern tidak harus dicapai dengan mengorbankan identitas moral dan spiritualnya.
Dengan menjaga jati diri, menguatkan tradisi literasi, dan membumikan cetak biru keadilan sosial Islam, Minangkabau akan terus menyumbang saham peradaban yang berharga bagi masa depan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Dari nagari untuk Indonesia, dari mufakat menuju kemaslahatan umat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....