Doa & Air Mata, Penantian Berbuah Manis Khairul Rahman Putra Jadi PNS TVRI Jawa Timur
- 03 Apr 2026 16:24 WIB
- Bukittinggi
Oleh :
Khairul Rahman Putra.,ST
( PNS TVRI Jawa Timur )
RRI.CO.ID,Surabaya -Tidak semua perjuangan terlihat. Tidak semua luka terdengar.
Namun, setiap air mata yang jatuh diam-diam, setiap doa yang dipanjatkan dalam sunyi, tak pernah benar-benar sia-sia.
Kisah itu kini menemukan ujung indahnya pada sosok Khairul Rahman Putra,ST pemuda sederhana asal Tarok Bukittinggi, Sumatera Barat tepat Pada tanggal 1 April 2026, sebuah hari yang akan selalu dikenang sepanjang hidupnya, ia resmi menerima Surat Keputusan (SK) sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di TVRI Jawa Timur, Surabaya.

Namun, siapa sangka… di balik satu lembar SK itu, tersimpan ribuan hari penuh kegelisahan, ratusan malam yang basah oleh air mata, dan doa-doa panjang yang dipanjatkan dengan penuh harap.
Khairul adalah anak dari pasangan Boy.,ST dan Lisa Yanti.,SP.
Sejak kecil, ia dibesarkan dalam kesederhanaan, dengan nilai-nilai kerja keras dan keteguhan iman yang tertanam kuat dalam dirinya.
Ia tumbuh dengan mimpi besar ingin membanggakan kedua orang tuanya, ingin mengangkat derajat keluarga, dan ingin membuktikan bahwa anak kampung pun mampu berdiri sejajar.
Sebagai alumni S.1 Teknik Mesin Universitas Andalas, Khairul pernah berada di titik penuh harapan.
Ia percaya masa depannya akan cerah.
Namun hidup, seperti yang sering terjadi, tak selalu berjalan sesuai rencana manusia.
Hari-hari setelah kelulusan justru menjadi awal dari ujian panjang yang tak pernah ia bayangkan.
Satu per satu lamaran kerja ia kirimkan.
Harapan demi harapan ia gantungkan.
Namun yang datang justru penolakan demi penolakan.
Waktu terus berjalan… minggu berganti bulan… bulan berganti tahun…
Hingga akhirnya, hampir lebih dari tiga tahun lamanya, Khairul hidup dalam status sebagai pengangguran.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya angka.
Tapi bagi Khairul, itu adalah masa yang penuh tekanan, penuh pertanyaan, dan penuh rasa kehilangan arah.
Ia melihat teman-temannya satu per satu berhasil.
Saudara-saudaranya pulang kampung dengan cerita sukses, dengan kebahagiaan yang terpancar jelas.
Bahkan di momen Lebaran yang seharusnya menjadi waktu paling hangat dalam keluarga, ia justru sering menundukkan kepala.
Ditengah canda tawa, ada luka yang ia sembunyikan.
Ada pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah berani ia jawab.
Ada rasa malu yang perlahan menggerogoti kepercayaan dirinya.
Tak jarang, ia memilih diam. Menyendiri. Menghindar dari keramaian.
Karena setiap pertanyaan sederhana dengan logat bahasa minang kental seperti “Dima Utha kini, Alah dapek karajo..?' terasa seperti perlahan mengiris hatinya telah 4 tahun berjibaku kuliah justru belum mendapatkan pekerjaan justru rekan sebayanya telah duluan bekerja..
Air mata pun menjadi teman setia di kala malam.
Ia menangis… bukan karena lemah, tetapi karena terlalu lama memendam.
Ia hampir menyerah. Hampir kehilangan harapan.
Bahkan sempat berpikir bahwa mungkin dirinya memang belum cukup baik.
Namun di titik paling gelap itu, Allah menghadirkan cahaya.
Doa kedua orang tuanya tak pernah berhenti.
Sang bunda, Lisa Yanti,SP yang setiap hari bekerja di BPS Kota Bukittinggi meski dalam lelahnya tetap menyelipkan doa terbaik untuk putranya bahkan bundanya kurang 2 tahun lagi akan memasuki pensiun.
Sang ayah pun terus menjadi penopang, meski tak banyak kata yang terucap kini berada kondisi stroke ringan tidak bisa lagi membawa kendaraan.
Dan ada satu sosok yang tak boleh dilupakan dari karirnya.
Di saat Khairul merasa jatuh, beliau hadir sebagai penyemangat. Memberikan dorongan, nasihat, dan keyakinan bahwa semua akan indah pada waktunya.
“Jangan berhenti berusaha… jangan lelah berdoa, 1 ditolak lamaran justru masukan lagi 100 buah lamaran” mungkin itu kalimat sederhana, namun mampu menjaga nyala harapan dalam diri Khairul.
dirinya menerima pesan khusus, setelah jadi PNS ingat dan jangan lupakan ayah bunda dan selalu ingat adik adik, dan jangan langsung menikah dikarnakan sudah mapan kehidupan saat ini sebagai PNS TVRI Jawa Timur ,"Terangnya ketika berangkat merantau ke negeri seberang Pulau Jawa tepatnya di Surabaya
Sejak saat itu, Khairul memilih untuk tidak lagi melawan keadaan, tetapi mendekat kepada Sang Pencipta.
Ia bangun di sepertiga malam.
Dalam sunyi yang begitu dalam, ia bersujud lebih lama dari biasanya. Dengan suara yang lirih dan hati yang hancur, ia memohon…
“Ya Allah…jika ini yang terbaik, maka mudahkanlah… jika belum, maka kuatkanlah…”
Tak ada yang melihat. Tak ada yang tahu. Tapi langit menjadi saksi.
Hingga akhirnya, ia mencoba kembali melamar ke RRI Bukittinggi.
Ia menaruh harapan disana. Ia percaya, mungkin inilah jalannya.
Namun takdir Allah jauh lebih indah dari apa yang ia rencanakan.
Saat pengumuman tiba, jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar.
Ia membuka hasil itu dengan perasaan campur aduk antara takut dan berharap.
Dan… namanya ada.
Namun bukan di tempat yang ia duga.
Ia dinyatakan lulus sebagai PNS… dan ditempatkan di TVRI Jawa Timur, Surabaya dan saat ini harus berpisah untuk sementra engan ayah bunda dan kedua adik adiknya yang saat ini belum bekerja
Sejenak ia terdiam.
Seolah tak percaya.
Air matanya jatuh… kali ini bukan karena sedih, tetapi karena haru yang tak terbendung.
Semua luka, semua penantian, semua doa… terbayar lunas dalam satu momen itu.
Sang bunda menjadi orang pertama yang mengabarkan.
Di tengah aktivitasnya bekerja, dengan suara bergetar penuh kebahagiaan, ia menyampaikan kabar yang selama ini dinantikan.
“Alhamdulillah… Utha lulus, ayah, bunda & Om Jho…”
Kalimat sederhana, namun mampu meruntuhkan semua benteng emosi yang selama ini Khairul bangun.
Tangis pecah.
Bukan hanya tangis kebahagiaan, tetapi juga tangis pelepasan dari beban panjang yang selama ini ia pikul sendirian.
Hari itu menjadi saksi bahwa tidak ada doa yang sia-sia.
Tidak ada usaha yang benar-benar hilang. Dan tidak ada kesabaran yang berakhir tanpa hasil.
Kini, Khairul Rahman Putra berdiri sebagai salah satu dari 25 orang terpilih yang menerima SK 100 % PNS TVRI Jawa Timur dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.
Dari seorang pemuda yang hampir putus asa… menjadi pribadi yang menginspirasi.
Dari seseorang yang dulu menunduk karena malu… kini berdiri tegak membawa kebanggaan.
Dari Tarok, Bukittinggi… menuju Surabaya… membawa cerita yang akan dikenang sepanjang masa.
Kisah ini bukan hanya milik Khairul Rahman Putra
Ini adalah kisah bagi siapa saja yang sedang berjuang dalam diam.
Bagi mereka yang sering menangis tanpa suara.
Bagi mereka yang merasa tertinggal.
Bagi mereka yang hampir menyerah.
Percayalah…
Ketika manusia berkata “tidak mungkin”… Allah hanya berkata, “Kun fayakun”—maka jadilah.
Dan ketika waktu itu tiba…
Segala yang terasa mustahil… akan menjadi kenyataan yang tak pernah terbayangkan.
Karena pada akhirnya, harapan yang dijaga dengan sabar, disirami dengan doa dipanjatkan ditengah malam, dan diperjuangkan dengan sepenuh hati… akan menemukan jalannya pulang.
Dan mungkin… hari itu akan datang… tepat di saat yang paling tidak kita sangka. (Khairul Rahman Putra,ST)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....