Sensus Ekonomi 2026 di Bukittinggi, Kontribusi & Tonggak Baru Pemetaan Nasional
- 26 Mar 2026 10:18 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bukittinggi, Abdi Gunawan, memaparkan secara komprehensif rencana pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dalam pertemuan yang digelar di Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Jalan Perwira, Belakang Balok, Kamis, 26 Maret 2026

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur Forkopimda, Sekretariat Daerah, kepala perangkat daerah, pimpinan instansi vertikal, perbankan, BUMN/BUMD, serta perwakilan sektor swasta. Paparan tersebut menjadi momentum awal konsolidasi lintas sektor guna menyukseskan salah satu agenda statistik terbesar di Indonesia.

Sensus Ekonomi: Potret Dekade Perjalanan Ekonomi Bangsa
Dalam pemaparannya, Abdi Gunawan menjelaskan bahwa Sensus Ekonomi merupakan kegiatan strategis nasional yang telah memiliki sejarah panjang dalam mendokumentasikan dinamika perekonomian Indonesia.
“Sensus ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1986 dan terus berlanjut setiap 10 tahun, yakni 1996, 2006, dan 2016. Kini kita bersiap menyongsong pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 sebagai bagian dari siklus tersebut,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa sensus ini bukan sekadar kegiatan pendataan biasa, melainkan instrumen utama negara dalam menghasilkan data ekonomi yang akurat, terkini, dan komprehensif.
“Sensus Ekonomi adalah program pendataan ekonomi terbesar yang kita miliki. Dari sinilah kita bisa benar-benar memahami struktur, kekuatan, serta tantangan ekonomi nasional secara menyeluruh,” tambahnya.
Cakupan Luas, Hampir Seluruh Lapangan Usaha
Sensus Ekonomi 2026 akan mencakup hampir seluruh aktivitas ekonomi di Indonesia, meliputi sektor pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, transportasi, akomodasi, jasa keuangan, pendidikan, hingga kesehatan.
Namun demikian, terdapat tiga kategori yang tidak termasuk dalam cakupan sensus ini, yaitu:
- Sektor pertanian
- Administrasi pemerintahan
- Aktivitas rumah tangga sebagai pemberi kerja
“Pengecualian ini mengikuti klasifikasi baku statistik internasional, sehingga data yang dihasilkan tetap terstandar dan dapat dibandingkan secara global,” terang Abdi.
Dua Metode Pendataan: Digital dan Lapangan
Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 akan dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni pendataan mandiri berbasis digital dan pendataan langsung oleh petugas.
1. Pengisian Kuesioner Online (CAWI)
Dilaksanakan pada Mei hingga Agustus 2026, metode ini ditujukan terutama bagi perusahaan skala besar. Pelaku usaha akan menerima notifikasi melalui email untuk mengisi data secara mandiri.
Sebagai upaya meningkatkan partisipasi, BPS juga akan menggelar program “Ngisi Bareng” (Ngibar), yakni kegiatan pengisian kuesioner secara kolektif yang difasilitasi oleh instansi pemerintah, asosiasi, maupun lembaga lainnya.
2. Pendataan Lapangan (Door-to-Door)
Tahap ini berlangsung pada 15 Juni hingga 31 Agustus 2026. Petugas BPS akan turun langsung ke lapangan untuk mendata usaha yang belum terjangkau secara online atau yang mengalami kendala dalam pengisian mandiri.
“Kombinasi dua metode ini memastikan tidak ada usaha yang terlewat, baik skala besar maupun kecil, formal maupun informal,” tegasnya.
Menjawab Isu Strategis Ekonomi Nasional
Abdi Gunawan menegaskan bahwa Sensus Ekonomi 2026 dirancang untuk menjawab berbagai isu strategis yang berkembang dalam satu dekade terakhir.
Beberapa isu utama yang menjadi fokus antara lain:
- Penyusunan peta ekonomi wilayah yang lebih presisi
- Analisis daya saing dan produktivitas usaha
- Identifikasi permasalahan riil yang dihadapi pelaku usaha
- Pengukuran perkembangan ekonomi digital
- Pemetaan ekonomi berbasis lingkungan (green economy dan blue economy)
- Penguatan data kontribusi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
“Kita sedang menghadapi transformasi ekonomi yang sangat cepat, terutama akibat digitalisasi dan tuntutan keberlanjutan lingkungan. Data dari sensus ini akan menjadi dasar penting dalam merespons perubahan tersebut,” ujarnya.
Manfaat Luas bagi Berbagai Pemangku Kepentingan
Data yang dihasilkan dari Sensus Ekonomi 2026 akan memberikan manfaat besar bagi berbagai pihak:
Pemerintah
Sebagai dasar perencanaan, pengambilan kebijakan, serta evaluasi program pembangunan ekonomi, termasuk dalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Dunia Usaha
Sebagai referensi dalam melihat peluang pasar, menyusun strategi bisnis, serta menentukan arah investasi.
Akademisi dan Peneliti
Sebagai sumber data yang kaya untuk kajian ilmiah, riset kebijakan, dan analisis ekonomi.
Masyarakat Umum
Sebagai bentuk transparansi informasi ekonomi serta bahan literasi publik dalam memahami kondisi perekonomian.
Tiga Pilar Utama Hasil Sensus
Abdi menjelaskan bahwa output utama Sensus Ekonomi 2026 akan mencakup tiga pilar besar:
- Struktur Ekonomi
Menggambarkan distribusi dan komposisi kegiatan ekonomi berdasarkan wilayah, skala usaha, dan sektor. - Karakteristik Usaha
Meliputi aspek permodalan, tenaga kerja, kinerja usaha, produktivitas, daya saing, hingga kendala yang dihadapi pelaku usaha. - Indikator Ekonomi Baru
Termasuk di dalamnya indikator ekonomi digital, ekonomi hijau, dan ekonomi biru yang semakin relevan dalam konteks global.
Ajakan Kolaborasi: Kunci Keberhasilan Sensus
Menutup pemaparannya, Abdi Gunawan mengajak seluruh elemen daerah untuk berperan aktif dalam menyukseskan Sensus Ekonomi 2026.
Ia menekankan pentingnya dukungan dari Forkopimda, OPD, instansi vertikal, perbankan, BUMN/BUMD, sektor swasta, hingga komunitas dan masyarakat luas.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Keberhasilan sensus ini sangat bergantung pada kolaborasi dan partisipasi semua pihak,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar setiap instansi, lembaga profesi, perguruan tinggi, serta jaringan hingga tingkat kelurahan dan puskesmas dapat menginisiasi kegiatan “Ngibar” sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam proses pendataan.
“Partisipasi aktif Bapak dan Ibu, baik dalam publikasi maupun pengisian data, akan sangat menentukan kualitas data yang dihasilkan. Data yang akurat adalah fondasi pembangunan ekonomi yang tepat sasaran,” pungkasnya.
Dengan semangat kolaborasi dan dukungan seluruh elemen, Sensus Ekonomi 2026 diharapkan menjadi pijakan kuat dalam merancang kebijakan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis data di masa depan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....