Ramadhan 1447 Hijriah Berpisah Haru, Kepala BKN Sampaikan Pesan Menyentuh Qalbu
- 20 Mar 2026 06:32 WIB
- Bukittinggi
Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Pusat
RRI.CO.ID,Jakarta - Waktu terasa berjalan begitu cepat. Hari-hari penuh berkah yang dilalui sepanjang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah/ 2026 Masehi kini tiba di penghujungnya.
Suasana yang semula dipenuhi semangat ibadah, lantunan ayat suci, serta doa-doa yang dipanjatkan di setiap waktu, kini perlahan berganti menjadi nuansa haru perpisahan.
Ramadhan, bulan yang selalu dinanti kehadirannya, seakan menjadi tamu istimewa yang datang membawa cahaya, ketenangan, dan harapan. Namun sebagaimana tamu, ia pun harus berpamitan.
Dalam keheningan di ujung waktunya, banyak hati yang seolah diajak berbicara—merenungi apa yang telah dilakukan, dan apa yang akan dibawa setelah Ramadhan benar-benar pergi.
Dalam sebuah refleksi yang menyentuh, Ramadhan digambarkan seakan berkemas dengan tenang. Ia tidak pergi dengan gegap gempita, melainkan dengan pesan lembut yang menggugah kesadaran.
“Sebentar lagi aku akan pergi. Jagalah imanmu baik-baik.”
Pesan sederhana itu terasa begitu dalam. Ia bukan sekadar ungkapan, melainkan pengingat bahwa perjalanan spiritual tidak berhenti di bulan Ramadhan.
Justru setelahnya, setiap insan diuji untuk tetap menjaga nilai-nilai yang telah dibangun—keikhlasan, kesabaran, kepedulian, dan kedekatan kepada Sang Pencipta.
Perpisahan ini juga menyisakan pertanyaan yang tak terucap: apakah kita akan dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang? Ketidakpastian itu menjadikan setiap detik di penghujung bulan suci terasa begitu berharga. Air mata, doa, dan harapan menyatu dalam keheningan malam-malam terakhir.
Seiring dengan datangnya Hari Raya Idul Fitri 1447 H, suasana haru itu perlahan beralih menjadi kehangatan. Idul Fitri hadir sebagai momentum kemenangan—bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi kemenangan dalam mengendalikan diri dan memperbaiki hati.
Dalam suasana penuh makna tersebut, Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) PusatProf. Dr. Zudan Arif Fakhrulloh.,SH.MH turut menyampaikan ucapan Idul Fitri yang sarat dengan ketulusan dan doa bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Dengan penuh kerendahan hati, beliau menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin atas segala kesalahan dan kekhilafan, baik yang disengaja maupun tidak. Ucapan tersebut tidak hanya menjadi formalitas, tetapi juga cerminan nilai keikhlasan yang menjadi inti dari Idul Fitri.
“Di penghujung bulan suci Ramadhan dan dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, saya dari hati yang tulus dan ikhlas mengucapkan mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf. Taqabbalallahu minna wa minkum, minal aidin wal faizin,” ungkapnya.
Lebih jauh, beliau juga menyampaikan harapan dan doa agar seluruh amal ibadah yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan dapat diterima oleh Allah SWT. Ia mengajak masyarakat untuk tidak berhenti pada ritual, tetapi menjadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih baik.
Dalam pesannya, Zudan Arif Fakrulloh juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan, mempererat silaturahmi, serta membangun semangat saling memaafkan di tengah kehidupan bermasyarakat.
Ia turut mendoakan agar seluruh masyarakat Indonesia senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan, umur panjang, serta perlindungan dalam menjalani kehidupan.
Tidak hanya itu, harapan besar juga disampaikan agar setiap insan dipertemukan kembali dengan bulan suci Ramadhan di tahun-tahun mendatang.
Ucapan tersebut menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum untuk kembali ke fitrah membersihkan hati dari segala prasangka, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat keimanan kepada Allah SWT.
Di tengah gema takbir yang akan segera berkumandang, ada perasaan yang tak bisa disembunyikan antara bahagia menyambut kemenangan dan haru melepas kepergian Ramadhan.
Namun dari perasaan itulah tumbuh harapan baru.
Harapan agar setiap langkah setelah Ramadhan tetap dilandasi nilai-nilai kebaikan. Harapan agar setiap hati tetap lembut dalam menghadapi kehidupan.
Dan harapan agar jejak Ramadhan tidak pernah hilang, melainkan terus hidup dalam setiap amal, dalam setiap doa, dan dalam setiap niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Ramadhan boleh saja pergi, namun pesan yang ditinggalkannya akan selalu tinggal. Ia akan hadir dalam ingatan, dalam kerinduan, dan dalam setiap usaha untuk menjaga cahaya iman tetap menyala.
Dan di Hari Raya Idul Fitri ini, seluruh umat kembali dipersatukan dalam satu makna yang sama—saling memaafkan, menguatkan, dan melangkah bersama menuju kehidupan yang lebih penuh berkah.
Semoga setiap hati yang pernah disentuh oleh Ramadhan, akan selalu merindukannya… hingga dipertemukan kembali di waktu yang telah Allah tetapkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....