Kiprah Pejuang Nasional Mohammad Natsir
- 30 Mar 2025 21:33 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Mohammad Natsir bukanlah nama yang asing sejak masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia. Sosok yang berasal dari Solok Sumatra Barat ini, tidak hanya mendalami ilmu agama, namun juga bidang politik.
Natsir lahir dan dibesarkan di Solok, sebelum akhirnya pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA dan kemudian mempelajari ilmu Islam secara luas di perguruan tinggi. Ia terjun ke dunia politik pada pertengahan 1930-an dengan bergabung di partai politik berideologi Islam.
Hal ini terwujud lewat berkembangnya dakwah Islam di Indonesia, dan pemikirannya untuk memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sebelumnya berbentuk federal atau serikat (RIS) . Bahkan, Bung Karno menganggap Mohammad Natsir memiliki konsep untuk menyelamatkan republik melalui konstitusi.
Maka tidak heran, jika akhirnya Natsir dilantik menjadi perdana Menteri kelima. Pemikiran dan pergerakan Natsir tidak hanya diakui di Indonesia, namun juga dunia memberikan reputasi internasional yang sangat baik padanya. Selain itu, beliau pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress), ketua Dewan Masjid se-Dunia, anggota Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islamy yang berpusat di Mekkah, dan pendiri Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).
Dunia Islam bahkan mengakui Mohammad Natsir sebagai pahlawan yang melintasi batas bangsa dan negara. Dikutip dari berbagai sumber, Bruce Lawrence menyebutkan bahwa Natsir merupakan politisi yang paling menonjol mendukung pembaruan Islam.
Pada tahun 1957, Natsir menerima bintang Nichan Istikhar (Grand Gordon) dari Raja Tunisia, Lamine Bey atas jasanya membantu perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara. Penghargaan internasional lainnya yaitu Jaa-izatul Malik Faisal al-Alamiyah pada tahun 1980, dan penghargaan dari beberapa ulama dan pemikir terkenal seperti Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dan Abul A'la Maududi.
Sementara pada tahun 1980, Natsir dianugerahi penghargaan Faisal Award dari Raja Fahd Arab Saudi melalui Yayasan Raja Faisal di Riyadh, Arab Saudi. Ia juga memperoleh gelar doktor kehormatan di bidang politik Islam dari Universitas Islam Libanon pada tahun 1967. Pada tahun 1991, ia memperoleh dua gelar kehormatan, yaitu dalam bidang sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan dalam bidang pemikiran Islam dari Universitas Sains Malaysia.
Natsir juga tokoh yang aktif dalam dunia kepenulisan. Ia telah menulis 45 buku dan ratusan artikel yang memuat pandangannya terkait Islam. Beliau aktif menulis di majalah-majalah Islam sejak karya tulis pertamanya diterbitkan pada tahun 1929.
Karya terawalnya berbahasa Belanda dan Indonesia yang banyak membahas terkait pemikiran Islam, budaya, hubungan antara Islam dan politik, dan peran perempuan dalam Islam. Karya-karya selanjutnya banyak yang ditulis dalam bahasa Inggris, dan lebih terfokus pada politik, pemberitaan tentang Islam, dan hubungan antara umat Kristiani dengan Muslim.
Hingga akhir hayatnya, pemerintah menobatkan Mohammad Natsir sebagai pahlawan nasional. Nama beliau pun diabadikan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Solok, Provinsi Sumatera Barat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....