70 Tahun Wafatnya Pahlawan Nasional Haji Agus Salim, Seminar Nasional Di Bukittinggi Hadirkan Rocky Gerung

  • 16 Nov 2024 10:00 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN,Bukittinggi; Dalam rangka peringatan 70 tahun wafatnya Haji Agus Salim, ITB HAS mengadakan kegiatan seminar Nasional bertema "Pokok-Pokok Pikiran Haji Agus Salim dan Implikasinya bagi Millennials/Gen Z" tanggal 16 November 2024 di Gedung Negara Tri Arga, Bukittinggi. Kegiatan ini menghadirkan tiga orang narasumber yaitu; Drs. Rocky Gerung.,M.Si (Akademisi Filsuf UI & Founder Tumbuh Institute), Hasril Chaniago (Wartawan Senior & Penulis) dan Arief Malinmudo (Sutradara Film & Penulis Skenario).

Acara yang dipandu oleh Moderator DR. Hj. Yulhasri.,S.E.MBA tersebut dibuka oleh Rektor ITBHas Dr. Hellyani.,SE.M.M dan dihadiri oleh Prof. Dr. dr. Fasli Jalal, (Mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional/Rektor Universitas Yarsi), Agus Tanzil (Cucu Haji Agus Salim) dan Prof. Dr. Elfindri (Ketua Yayasan Indonesia Raya). Kegiatan ini merupakan peringatan 70 wafatnya Haji Agus Salim yang meninggaldunia tanggal 4 November 1954 di Jakarta.

Dalam sambutannya, Agus Tanzil anak dari Violet Hanifah Salim dengan Djohan Sjahroezah tersebut menyampaikan apresianya atas terselenggaranya kegiatan ini. Penghargaan itu ditunjukkan dengan kehadiran beberapa anggota keluarga besar H. Agus Salim lainnya dari Jakarta.

Pembicara pertama, Hasril Chaniago menguraikan peran penting H. Agus Salim sebagai salah satu pendiri bangsa Indonesia. Dia adalah seorang tokoh pe¬juang kemerdekaan, wartawan dan diplomat ulung yang fasih berbicara dan menulis da¬lam sembilan bahasa. Dilahirkan di Koto Gadang, Agam, 8 Oktober 1884, dengan nama Mashudul Haq yang berarti “Pembela Kebenaran”.

Pada masa kecil, kecerdasannya sudah nampak menonjol. Dia berkesempatan bersekolahg di sekolah yang dikhususkan untuk anak-anak keturunan Eropa. Lantaran cerdas, ia dapat menyelesaikan studi di HBS hanya da¬lam waktu lima tahun (dari seharusnya enam tahun) dan ketika lulus ia memperoleh pre¬dikat terbaik di HBS se-Hindia Belanda.

Tamat HBS, tahun 1903 ia mengajukan per¬mohonan beasiswa kepada pemerintah Hin¬dia Belanda melanjutkan studi ilmu kedokteran di Belanda, namun ditolak. Men¬dengar penolakan itu, Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara yang kelak juga menjadi pahlawan nasional, merekomendasikan Agus Salim agar menggantikan dirinya yang telah menikah untuk pergi ke Belanda. Untuk itu Kartini menulis surat kepada J.H. Abendanon. Pemerintah Hindia Belanda menyetujui per¬mintaan Kartini, tapi Agus Salim menolak dengan alasan beasiswa itu bukan atas dasar kemampuan dirinya sendiri melainkan ‘pem-berian’ dari orang lain.

Pada tahun 1906, Agus Salim mendapat tawaran kerja sebagai dragoman (ahli pener¬jemah) di Konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Awalnya ia enggan menerima tawaran itu, tapi atas saran ibunya, ia akhirnya be¬rangkat ke Arab Saudi dan bekerja di sana sampai tahun 1911. Agus Salim memanfaat¬kan kesempatan tersebut untuk menambah ilmu dan wawasannya dengan belajar agama Islam dan bahasa Arab kepada ulama-ulama asal Indonesia yang bermukim di sana. Di an-taranya kepada Syekh Ahmad Khatib al-Mi¬nangkabawi, Imam Besar Masjidil Haram yang juga masih terbilang paman dari Agus Salim sendiri.

Setelah lima tahun bekerja di Jeddah, ia pulang ke Indonesia, dan bekerja pada kantor BWO di Jakarta. Setahun kemudian ia berhen¬ti dan pulang ke Koto Gadang untuk mendi¬rikan sekolah Hollandsche Inlandsche School (HIS) pada tahun 1912, lalu mengajar di seko¬lah tersebut sampai tahun 1915.

Agus Salim mengawali karier politiknya di Sarekat Islam (SI) bersama dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis sejak tahun 1915. Organisasi ini banyak menyuarakan kepentingan perjuangan bangsa Indonesia. Melalui organisasi ini, ia mengecam tinda¬kan pemerintah kolonial Belanda yang sering menyengsarakan rakyat Indonesia.

Agus Salim pernah menjadi anggota Volks¬raad (Dewan Rakyat) Hindia Belanda (1921– 1924) sebagai wakil SI menggantikan posisi HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis yang mengundurkan diri karena kecewa terhadap pemerintah Belanda. Di sana ia berpidato agar bahasa Melayu, bukan bahasa Belanda, yang digunakan sebagai bahasa resmi Volks¬raad. Ternyata ia juga merasakan sebagaima¬na pendahulunya bahwa perjuangan melalui Volksraad tidak banyak bermanfaat. Agus Salim akhirnya keluar dari Volksraad dan berkonsentrasi di SI.

Pada zaman Jepang Agus Salim sempat bekerja pada stasiun radio Nirom bahagian ketimuran. Tapi hanya sebentar, ia lalu ban¬ting setir menjadi pedagang arang agar dapat hidup bebas dan terlepas dari tekanan Je¬pang. Pekerjaan ini tak lama dilakukannya, karena jiwa kepemimpinan dan cita-cita untuk kemerdekaan Indonesia menghim¬baunya kembali ke medan juang.

Menjelang akhir pendudukan Jepang, ia diangkat men¬jadi anggota Panitia Sembilan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Ke¬merdekaan Indonesia). Selain ikut merumus¬kan Piagam Jakarta, bersama dengan Djaja¬diningrat dan Soepomo, Agus Salim menjadi penghalus bahasa dalam penyusunan batang tubuh UUD 1945.

Pada kurun inilah ia kerap dijuluki “Orang Tua Besar” (The Grand Old Man). Julukan itu sebagai bentuk penghargaan atas pengaruh dan kontribusinya yang besar terhadap pembentukan bangsa dan negara Indonesia. Selain karena wibawa dan pengaruhnya, penyebutan “Orang Tua” juga karena ia yang sudah berumur 61 tahun merupakan anggota tertua di BPUPKI dan PPKI.

Anggota yang lain rata-rata jauh di bawahnya, seperti Soekarno yang baru berumur 44 tahun dan Hatta berumur 43 tahun. Mohammad Hatta sendiri pernah menyebut Agus Salim sebagai Salim op zijn best (Agus Salim adalah orang hebat dan terbaik).

Setelah Proklamasi, Indonesia memerlukan pengakuan dan dukungan dari negara-negara lain. Guna keperluan itu Salim diutus oleh Pemerintah RI mengunjungi beberapa negara.

Delegasi pertama yang dipimpinnya adalah ke Internal Asia Conference di New Delhi pada tahun 1947. Selesai dari konferensi itu, Agus Salim dan rombongannya langsung menuju ke Timur Tengah untuk menjelaskan cita-cita revolusi dan perjuangan bangsa Indonesia. Dengan gemilang delegasinya dapat meraih simpati dan pengakuan kemerdekaan Indonesia dari negara-negara Mesir, Saudi Arabia, Turki, Iran, dan Irak.

Pada saat Agresi Belanda II tanggal 19 Desember 1948, tentara Belanda menangkap sejumlah pemimpin Indonesia, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan bekas Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Agus Salim juga turut ditangkap. Mereka diasingkan ke Brastagi, kemudian dipindahkan ke Prapat, dan akhirnya ditawan Bangka, dan baru dikembalikan ke Yogyakarta setelah gencatan senjata.

Setelah penyerahan kedaulatan, Agus Salim menjadi penasihat Menteri Luar Negeri. Pengalamannya dalam bidang jurnalisme membuatnya juga dipercaya sebagai Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun 1952. Selain itu, Agus Salim juga aktif memberikan ceramah-ceramah ilmiah dalam berbagai kesempatan diundang ke sejumlah perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.

Pada tahun 1953, ia memberi kuliah tentang Islam di Cornell University (Ithaca) dan Princeton University, Amerika Serikat. Ceramahnya itu kemudian dibukukan dan diterbitkan oleh Cornell University.

Agus Salim juga pernah diangkat sebagai guru besar pada Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTNI) di Yogyakarta. Namun pengangkatan itu belum sempat dijalaninya karena Agus Salim wafat pada tanggal 4 November 1954 di RSU Jakarta. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas jasa-jasanya bagi bangsa dan negara, Agus Salim mendapat sejumlah tanda jasa dari neg¬ara. Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dengan Keputusan Presiden RI No. 657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961.

Selain itu, ia juga mendapat tanda penghargaan Bintang Mahaputera Tingkat I (1960) dan Satyalan¬cana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan (1961). Namanya diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah/kota di Indonesia, serta sebagai nama sebuah gelanggang olah¬raga di Padang, Sumatera Barat, yaitu Gelang¬gang Olahraga Haji Agus Salim.

Dalam memoarnya, Bung Hatta menyebut Agus Salim sebagai jenis manusia yang dila¬hirkan hanya satu dalam satu abad. Kehe¬batannya diakui oleh kawan maupun lawan.

Pejabat tinggi Belanda yang sering menjadi lawan tanding Agus Salim dalam pelbagai forum diplomasi, Prof. Schermerhorn, da-lam catatan hariannya bertanggal 1 Oktober 1946, menulis tentang Agus Salim: “Orang tua ini adalah sosok orang yang sangat pan¬dai, jenius dan menguasai sembilan bahasa. Tapi dia punya satu kelemahan, yaitu selama hidupnya melarat.”

Penulis;

DR. (Cad.) Efri Yoni Baikoeni


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....