Kenalan dengan Papeda, Kuliner Khas Maluku dan Papua yang Penuh Cerita

  • 11 Jun 2026 20:34 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kalau bicara soal kuliner Indonesia bagian timur, ada satu makanan yang sering bikin orang penasaran sekaligus kaget saat pertama kali melihatnya, yaitu papeda. Makanan ini berasal dari wilayah timur Indonesia dan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di sana sejak lama. Meski tampilannya sederhana, papeda punya cerita budaya yang cukup dalam.

Papeda dikenal sebagai makanan berbahan dasar sagu yang dimasak dengan air panas hingga berubah menjadi bubur kental berwarna bening. Teksturnya lengket dan kenyal, mirip lem, sehingga cara makannya pun tidak biasa. Biasanya papeda diambil menggunakan alat khusus seperti sumpit besar, lalu diputar sebelum disantap. Bagi yang baru pertama kali mencoba, ini bisa jadi pengalaman yang cukup unik.

Di daerah Maluku, papeda bukan sekadar makanan, tapi sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak masyarakat di sana menjadikannya makanan pokok pengganti nasi. Hal ini wajar, karena pohon sagu tumbuh subur di wilayah tersebut dan sudah dimanfaatkan turun-temurun sebagai sumber karbohidrat utama.

Yang membuat papeda semakin enak adalah lauk pendampingnya. Biasanya papeda disajikan dengan ikan kuah kuning yang gurih dan segar. Ikan laut segar dimasak dengan kunyit, serai, dan rempah sederhana, lalu kuahnya disiramkan ke papeda. Perpaduan rasa gurih, segar, dan hangat ini justru bikin banyak orang ketagihan.

Di beberapa daerah lain seperti Papua, papeda juga punya tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat. Makanan ini sering hadir di meja makan keluarga, acara adat, sampai jamuan untuk tamu. Artinya, papeda bukan hanya soal rasa, tapi juga soal kebersamaan dan tradisi.

Buat sebagian orang yang baru pertama kali melihatnya, papeda mungkin terlihat “aneh” karena bentuknya yang seperti bubur lengket. Tapi justru di situlah daya tariknya. Banyak wisatawan yang awalnya ragu, tapi akhirnya suka karena rasanya ringan dan cocok dipadukan dengan berbagai lauk.

Menariknya lagi, cara makan papeda juga jadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Tidak seperti nasi yang langsung disendok, papeda harus “diputar” dulu sebelum dimakan. Momen ini sering jadi hal yang lucu dan berkesan, apalagi kalau makan bersama orang lokal yang sudah terbiasa.

Seiring waktu, papeda mulai dikenal lebih luas di luar Indonesia timur. Banyak restoran khas daerah yang mulai mengenalkannya ke kota-kota besar, sehingga semakin banyak orang yang penasaran untuk mencoba makanan tradisional ini.

Papeda bisa dibilang bukan sekadar makanan, tapi juga cerita tentang alam, budaya, dan cara hidup masyarakat timur Indonesia yang sederhana namun kaya makna. Dari bahan yang sederhana seperti sagu, lahirlah hidangan yang unik dan punya identitas kuat.

Kalau suatu hari berkunjung ke Indonesia timur, papeda adalah salah satu kuliner yang layak dicoba. Bukan hanya untuk mengisi perut, tapi juga untuk merasakan pengalaman budaya yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain. (DEP/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....