Randang Daun Kayu Khas Harau

  • 05 Apr 2026 13:23 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Randang daun kayu menjadi salah satu kuliner legendaris khas kawasan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, yang telah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Berbeda dengan randang pada umumnya yang berbahan dasar daging, randang ini diolah dari berbagai jenis daun hutan.

Daun yang digunakan dalam proses memasak randang ini di antaranya daun surian, daun mali-mali, daun asam-asam, daun pucuk jawa, hingga daun pelangi yang tumbuh liar di kawasan hutan Harau. Keunikan bahan baku tersebut menjadikan randang daun kayu memiliki cita rasa khas yang tidak kalah dengan randang daging.

Secara tradisional, randang daun kayu biasanya disajikan pada momen-momen khusus seperti acara pernikahan, Hari Raya, maupun pesta adat. Kuliner ini tidak diperjualbelikan di lapau atau rumah makan, melainkan hanya dikonsumsi secara terbatas di lingkungan masyarakat setempat.

Keberadaan randang daun kayu juga pernah menarik perhatian kalangan akademisi. Kuliner unik ini menjadi objek penelitian Pusat Riset Kebudayaan Minangkabau Universitas Negeri Padang (UNP), sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya daerah.

Secara historis, kemunculan randang daun kayu diduga berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat masa lampau, ketika bahan pangan seperti daging masih tergolong mahal dan sulit dijangkau. Masyarakat kemudian memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka, khususnya dedaunan hutan, sebagai alternatif bahan masakan.

Meski berbahan sederhana, randang daun kayu memiliki cita rasa yang gurih dan lezat. Bahkan, sebagian masyarakat menilai rasanya mendekati randang daging, terutama jika diolah bersama bahan tambahan seperti belut.

Randang daun kayu menjadi bukti kearifan lokal masyarakat Harau dalam memanfaatkan kekayaan alam sekaligus menjaga tradisi kuliner yang tetap lestari hingga kini. (ER/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....