Filosofi Ketupat, Primadona Lebaran

  • 19 Mar 2026 19:20 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Ketupat menjadi hidangan khas yang selalu hadir saat Idul Fitri di Indonesia. Makanan ini memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan nilai kehidupan. Secara historis, ketupat dikenal sejak masa penyebaran Islam di Jawa. Sunan Kalijaga disebut memperkenalkan tradisi ketupat sebagai media dakwah.

Bentuk anyaman ketupat melambangkan kerumitan kesalahan manusia dalam kehidupan. Menurut budayawan, anyaman tersebut menggambarkan berbagai dosa yang saling terkait.

Kata “ketupat” berasal dari istilah “ngaku lepat” dalam bahasa Jawa. Ungkapan ini berarti mengakui kesalahan kepada sesama manusia.

Isi ketupat yang berwarna putih melambangkan kesucian setelah memohon maaf. Hal ini sejalan dengan makna Idul Fitri sebagai kembali ke keadaan bersih. Pembungkus janur juga memiliki filosofi tersendiri dalam tradisi ketupat. Janur dimaknai sebagai “jatining nur” yang berarti cahaya hati menurut budaya Jawa.

Tradisi menyajikan ketupat bersama keluarga memperkuat nilai kebersamaan saat Idul Fitri. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutnya sebagai bagian dari warisan budaya. Seiring perkembangan zaman, ketupat tetap bertahan sebagai simbol Lebaran. Tradisi ini menunjukkan kekayaan makna yang diwariskan secara turun-temurun.

Dengan demikian, ketupat bukan sekadar makanan khas Idul Fitri. Ketupat menjadi simbol refleksi diri, permohonan maaf, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. (APS/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....