Lamang Golek, Variasi Camilan Ketan dari Minangkabau
- 05 Feb 2026 05:48 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi – Sumatera Barat dikenal kaya akan ragam kuliner tradisional yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga sarat nilai budaya. Salah satunya adalah Lamang Golek, camilan khas Minangkabau yang juga dikenal dengan nama Lamang Panggang atau Lamang Baluo.
Berbeda dengan lemang bambu yang dimasak di dalam ruas bambu, Lamang Golek dibuat dari beras ketan putih (sipuluik) yang dimasak bersama santan kental, garam, dan daun pandan, kemudian dibentuk lonjong, dibungkus daun pisang, dan dimatangkan dengan cara dipanggang. Proses ini menghasilkan tekstur yang kenyal dengan aroma khas daun pisang yang harum.
Ciri khas Lamang Golek terletak pada bagian isiannya. Di bagian tengah, biasanya diisi unti kelapa, yaitu campuran parutan kelapa dan gula aren yang dimasak hingga meresap dan kering. Perpaduan rasa gurih ketan dan manis legit unti kelapa menjadikan kudapan ini digemari berbagai kalangan.
Proses pembuatan Lamang Golek dimulai dari merendam beras ketan selama sekitar tiga jam agar mudah matang. Ketan kemudian dikukus, lalu dimasak kembali dengan santan panas hingga meresap sempurna. Setelah matang, ketan dipipihkan di atas daun pisang, diberi isian unti, lalu digulung dan dipadatkan. Gulungan tersebut dipanggang perlahan di atas api kecil atau teflon hingga permukaannya kecokelatan dan aromanya keluar.
Dalam proses memasak, terdapat sejumlah tips penting agar hasilnya optimal. Pengukusan ketan sebaiknya dilakukan dua kali untuk memastikan kematangan merata. Saat mencampur ketan dengan santan, pengadukan dilakukan perlahan agar teksturnya tetap terjaga. Untuk isian, penggunaan kelapa setengah tua dinilai paling pas karena memberikan rasa gurih dengan tekstur yang tidak terlalu keras.
Selain teknik memasak, pemilihan bahan juga berperan besar. Santan segar dari kelapa tua memberikan aroma yang lebih wangi, sementara gula aren asli menghadirkan rasa manis alami yang khas. Daun pisang muda yang telah dikukus sebentar akan lebih lentur dan tidak mudah robek saat digunakan sebagai pembungkus.
Dalam tradisi Minangkabau, Lamang Golek memiliki nilai simbolis. Makanan ini kerap dijadikan hantaran adat, khususnya saat menantu berkunjung ke rumah mertua, sebagai lambang penghormatan dan keakraban keluarga. Hingga kini, Lamang Golek masih sering hadir dalam acara adat, perayaan keluarga, maupun kegiatan keagamaan.
Seiring perkembangan selera, isian Lamang Golek kini juga divariasikan, seperti menggunakan pisang, cokelat, atau keju. Bahkan, jika daun pisang sulit ditemukan, aluminium foil dapat digunakan sebagai alternatif, meski aroma khasnya akan sedikit berbeda.
Keberadaan Lamang Golek menjadi bukti bahwa kuliner tradisional Minangkabau tidak hanya bertahan, tetapi terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Camilan sederhana ini tetap menjadi bagian penting dari warisan budaya Sumatera Barat yang patut dilestarikan.(ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....