Kue Sapik, Kue Kering Minangkabau yang Renyah Manis
- 18 Des 2025 18:13 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi: Di tengah ragam kuliner tradisional Minangkabau, kue sapik (atau kue sapek) menonjol sebagai kue kering khas dengan tekstur renyah dan rasa manis gurih. Kudapan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan adat dan momen hari raya, terutama saat Lebaran di Sumatera Barat.
Asal Usul dan Nama
Nama "sapik" berasal dari bahasa Minang yang berarti “jepit”, merujuk pada proses pembuatannya. Adonan kue dijepit menggunakan cetakan logam khusus saat dipanggang di atas api, sehingga menghasilkan tekstur tipis, renyah, dan motif khas pada permukaannya.
Bahan dan Bentuk
Bahan utama kue sapik terdiri dari:
Tepung beras
Telur
Gula pasir
Santan kental
Beberapa variasi menambahkan bubuk kayu manis atau adas manis untuk aroma yang lebih harum. Secara visual, kue sapik mirip dengan kue semprong, namun berbeda dalam bentuk akhir. Kue sapik biasanya dilipat menjadi segitiga atau bentuk kipas segera setelah diangkat dari cetakan selagi masih panas, bukan digulung seperti kue semprong.
Tradisi dan Makna
Kue ini memiliki nilai budaya tinggi di Minangkabau. Selain menjadi hidangan legendaris, kue sapik selalu hadir dalam perayaan hari raya, sebagai simbol kebersamaan keluarga dan kenikmatan kuliner khas Minangkabau.
Cara Membuat Singkat
Membuat Adonan: Campur tepung beras, gula, telur, dan santan hingga rata.
Pemanggangan: Panaskan cetakan kue sapik, tuang adonan, lalu jepit dan panggang di atas api kecil hingga berwarna kecokelatan.
Pelipatan: Segera lipat kue menjadi segitiga atau bentuk kipas selagi masih panas agar teksturnya tetap renyah. Simpan dalam wadah kedap udara.
Kue sapik tetap menjadi favorit hingga kini, baik sebagai oleh-oleh khas Minang, camilan sore, maupun sajian istimewa saat acara adat dan hari raya. Popularitasnya menegaskan bagaimana kuliner tradisional Minangkabau mampu mempertahankan cita rasa autentik sambil tetap relevan di era modern. (ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....