Dari Daun ke Bubuk: Perjalanan Unik Matcha
- 15 Okt 2025 13:32 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi : Minuman dan makanan berbahan matcha kini makin mudah ditemukan di berbagai tempat, dari kafe kekinian hingga restoran besar. Cita rasanya yang khas, lembut, dan sedikit umami membuatnya digemari banyak kalangan. Tak hanya enak, matcha juga diklaim kaya manfaat kesehatan. Matcha terbuat dari daun teh hijau (Camellia sinensis) yaitu tanaman teh yang sama digunakan untuk teh hijau biasa, teh hitam, dan teh oolong.
Namun, yang membuat matcha berbeda adalah cara penanaman, pemrosesan, dan penyajiannya:
Daun teh matcha ditanam di tempat teduh sekitar 3–4 minggu sebelum dipanen. Hal ini membuat daun menghasilkan lebih banyak klorofil dan asam amino L-theanine, sehingga warnanya lebih hijau cerah dan rasanya lembut. Setelah dipanen, daun muda dikukus sebentar untuk mencegah oksidasi, lalu dikeringkan dan digiling halus menggunakan batu granit hingga menjadi bubuk lembut — inilah matcha powder. Berbeda dari teh biasa yang diseduh lalu disaring, matcha dikonsumsi seluruhnya, jadi semua nutrisi dalam daun teh ikut diminum. Hasilnya, matcha kaya akan antioksidan, kafein alami, dan L-theanine yang membantu meningkatkan fokus sekaligus menenangkan pikiran.
Nama “matcha” berasal dari bahasa Jepang:
1. “Ma” (抹) artinya menggiling atau menumbuk,
2. “Cha” (茶) artinya teh.
Jadi, “matcha” secara harfiah berarti “teh yang digiling”.
Asal-usulnya:
Tradisi minum matcha bermula dari Cina pada abad ke-8, ketika daun teh dikeringkan dan ditumbuk menjadi bubuk. Namun, cara penyajian itu mulai punah di Cina dan justru dibawa ke Jepang oleh biksu Zen sekitar abad ke-12.
Di Jepang, matcha kemudian menjadi bagian penting dari upacara minum teh tradisional (chanoyu) yang menekankan ketenangan, kesederhanaan, dan keharmonisan.
Singkatnya:
Disebut matcha karena berasal dari daun teh hijau yang digiling halus, dan nama itu mencerminkan cara pembuatannya serta akar budayanya dari Jepang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....