Sejarah Lapek Bugih Kuliner Khas Minangkabau
- 29 Apr 2025 17:38 WIB
- Bukittinggi
KBRN, Bukittinggi : Lapek bugih, makanan ringan khas Minangkabau, adalah simbol kekayaan kuliner dan warisan tradisi Sumbar. Dengan cita rasa khas yang menggugah selera, lapek bugih bukan hanya sajian sehari-hari masyarakat Sumbar, tetapi juga menyimpan cerita unik tentang asal-usul dan cara pembuatannya. Lapek bugih memiliki rasa yang nikmat dengan tekstur yang kenyal, manis, dan gurih. Bentuknya menyerupai piramida dan terasa lengket serta agak kenyal. Ada juga yang bentuknya menyerupai persegi panjang. Lapek bugi biasanya berisi parutan kelapa atau gula merah dan selalu dibungkus dengan daun pisang.
Dilansir dari laman resmi Warisan Budaya Kemendikbud, Lapek Bugi adalah makanan ringan khas Minangkabau yang sudah ada sejak lama. Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, lapek bugi berasal dari tanah Bugis, Makassar. Dahulunya, pelayan dari Bugis memperkenalkan lapek bugi kepada masyarakat Minang. Makanan ini sering dijadikan hantaran dalam tradisi Maanta Pabukoan ketika memasuki bulan Ramadhan. Biasanya, menantu perempuan mengantarkan lapek bugih dan masakan lainnya ke rumah mertua (keluarga suami).
Kemudian, dikutip dari Repository UIN Suska, lapek berarti lepat, sedangkan bugi berarti ketan. Jadi, lapek bugih berarti Lepat yang dibuat dari Ketan. Istilah bugih digunakan karena pada zaman dahulu pembuatan lapek bugih melibatkan penumbukan Beras Ketan dengan lesung hingga halus, kemudian dijadikan adonan. Beras Ketan yang ditumbuk dengan lesung disebut Bugi. Pada masa itu, lapek bugih hanya disajikan dalam acara kenduri, syukuran keluarga, rapat pemerintahan, acara peringatan tertentu, dan perayaan hari besar Islam. Namun, seiring berjalannya waktu, lapek bugih mulai dikomersialkan dan dijadikan oleh-oleh khas Riau dan Sumatera Barat.
(ALT/Pro4BKT)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....