Prof. Dr. Achmad Mochtar, Ilmuwan Gugur demi Kemanusiaan

  • 06 Okt 2026 11:59 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Prof. Dr. Achmad Mochtar (1891–1945) merupakan salah satu ilmuwan kedokteran Indonesia terkemuka pada masanya. Ia tercatat menghasilkan 54 karya ilmiah, yang sebagian besar diterbitkan dalam jurnal-jurnal kedokteran bereputasi di Hindia Belanda.

Dalam kiprahnya di dunia kedokteran, Achmad Mochtar hanya dapat dibandingkan dengan sejawat satu generasinya, Prof. Dr. R. Sardjito, yang kemudian menjadi Rektor pertama Universitas Gadjah Mada dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Setelah kembali ke Indonesia, karier Achmad Mochtar berkembang pesat. Ia tercatat sebagai putra Indonesia pertama yang dipercaya menjabat Direktur Eijkman Instituut, lembaga penelitian kedokteran yang berfokus pada penyakit tropis dan dikenal sebagai salah satu pusat riset terkemuka di dunia.

Lembaga tersebut didirikan oleh Prof. Dr. Christiaan Eijkman, ilmuwan yang kemudian meraih Nobel Kedokteran pada 1929 atas kontribusinya dalam penelitian penyakit beri-beri.

Namun, jabatan tersebut juga menjadi awal dari tragedi yang menimpa Achmad Mochtar. Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah militer Jepang menuduhnya mencemari vaksin TCD dengan bakteri tetanus yang disebut menyebabkan kematian sekitar 900 romusha di Kamp Klender.

Achmad Mochtar kemudian ditangkap dan menghadapi ancaman hukuman berat. Dalam kondisi tersebut, ia disebut menandatangani pengakuan atas perbuatan yang sebenarnya tidak dilakukannya. Tindakan itu dilakukan untuk menyelamatkan 18 orang sejawatnya yang juga terancam hukuman mati.

Achmad Mochtar akhirnya harus merelakan nyawanya. Pengorbanannya menjadi bagian dari sejarah kelam pendudukan Jepang sekaligus mencerminkan keberanian seorang ilmuwan yang memilih mempertaruhkan dirinya demi keselamatan orang lain, serta mempertahankan nilai kebenaran dan kemanusiaan. (ER)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....