Kemarau Panjang, Kenali Dampaknya bagi Kesehatan dan Lingkungan
- 22 Sep 2026 07:30 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kemarau panjang dapat mengurangi ketersediaan air dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.
Kondisi kering juga dapat memengaruhi pertanian, lingkungan, serta aktivitas masyarakat.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 lebih kering dan panjang dibandingkan kondisi normal.
BMKG menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan peluang fenomena El Nino.
Kekurangan air menjadi salah satu dampak utama ketika kemarau berlangsung lebih panjang.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut kekeringan dapat menyebabkan kelangkaan air dan pangan.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit akibat keterbatasan air bersih dan sanitasi.
WHO mencatat kekeringan dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi, termasuk diare dan pneumonia.
Kemarau panjang juga dapat meningkatkan suhu udara dan menyebabkan tubuh kehilangan lebih banyak cairan.
BMKG mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan untuk mencegah dehidrasi dan kelelahan.
Kondisi udara kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG menyebut risiko karhutla meningkat selama periode kemarau yang dipengaruhi kondisi El Nino.
Kebakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap yang menurunkan kualitas udara.
WHO menyebut kekeringan berat dapat meningkatkan risiko kebakaran dan badai debu sehingga kualitas udara memburuk.
Dampak kemarau juga dirasakan sektor pertanian karena tanaman membutuhkan pasokan air untuk tumbuh.
BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dan penggunaan varietas yang lebih tahan kekeringan.
Masyarakat dapat menghadapi kemarau dengan menghemat air dan mengutamakan kebutuhan pokok.
BMKG juga mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran lahan.
Masyarakat perlu menjaga kondisi tubuh dengan cukup minum, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
Penggunaan pelindung dari sinar matahari juga dianjurkan untuk mengurangi paparan langsung.
Warga juga diminta tidak membakar sampah atau membuka lahan menggunakan api selama kondisi kering.
BMKG mengimbau masyarakat segera melaporkan indikasi titik api kepada pihak berwenang.
Kewaspadaan diperlukan agar dampak kemarau panjang tidak berkembang menjadi masalah kesehatan dan lingkungan.
Masyarakat dapat memantau informasi cuaca serta peringatan dini melalui kanal resmi BMKG. (APS/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....