Hujan Turun setelah Kemarau, Waspadai Perubahan Cuaca Ekstrem
- 22 Sep 2026 07:24 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Hujan yang turun setelah periode kemarau perlu diikuti kewaspadaan terhadap perubahan cuaca.
Perubahan kondisi atmosfer dapat memicu hujan lebat, petir, dan angin kencang di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebut hujan tetap dapat terjadi meski sebagian wilayah mengalami kemarau.
“Bukan berarti tidak turun hujan sama sekali,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.
Pada September 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau.
BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim masih mengalami kemarau hingga dasarian pertama September.
Meski demikian, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat masih terjadi di beberapa wilayah.
Pada 7 hingga 9 September, Sumatera Barat tercatat mengalami hujan hingga 114 milimeter per hari.
BMKG menjelaskan hujan tersebut dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
Fenomena itu antara lain MJO, Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, serta pertemuan angin.
Kondisi tersebut menunjukkan hujan dapat muncul secara lokal dengan intensitas tinggi meski kemarau masih mendominasi.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan informasi cuaca sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
BMKG juga memperingatkan potensi hujan sedang hingga lebat dan angin kencang pada sejumlah wilayah.
Informasi BMKG untuk 21 hingga 22 September mencantumkan beberapa wilayah dalam kategori waspada.
Perubahan cuaca yang cepat dapat meningkatkan risiko banjir, pohon tumbang, dan gangguan perjalanan.
Masyarakat disarankan menghindari tempat terbuka ketika hujan disertai petir atau angin kencang.
Pengendara juga perlu meningkatkan kewaspadaan karena jalan dapat menjadi licin setelah hujan turun.
Jarak pandang dapat berkurang sehingga kecepatan kendaraan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi jalan.
Masyarakat dapat memantau prakiraan dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG sebelum beraktivitas.
Langkah sederhana tersebut membantu masyarakat mengantisipasi perubahan cuaca dan mengurangi risiko kejadian akibat cuaca ekstrem. (APS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....