Waspada ‘Silent Killer,' Pencegahan, dan Bahaya Gagal Ginjal
- 09 Jul 2026 08:45 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kasus gangguan ginjal yang terus meningkat di Indonesia memerlukan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat. Menanggapi fenomena tersebut, dialog bertajuk "Sayangi Ginjal Anda".
Kenali Tanda Bahaya Gagal Ginjal dan Cara Menjaga Kesehatannya," dr. Raysa Ramayumi dari RS Achmad Mochtar Bukittinggi, mengingatkan masyarakat bahwa gagal ginjal sering kali tidak menunjukkan gejala yang khas pada stadium awal, sehingga kerap dijuluki sebagai silent killer.
"Banyak pasien yang datang ke fasilitas kesehatan sudah dalam kondisi stadium lanjut atau stadium lima, di mana fungsi ginjalnya sudah di bawah lima belas persen. Pada kondisi ini, tindakan seperti hemodialisis atau cuci darah biasanya sudah harus dilakukan," ujarnya.
Mengenali Tanda Bahaya Sejak Dini
Untuk mencegah keterlambatan penanganan, dr. Raysa memaparkan sejumlah tanda bahaya (red flags) yang harus diwaspadai oleh masyarakat. Gejala-gejala tersebut di antaranya:
* Perubahan Urinasi: Terjadinya penurunan volume urine (oliguria) atau bahkan tidak keluar urine sama sekali (anuria), serta urine yang tampak keruh atau berbusa karena mengandung protein.
* Pembengkakan (Edema): Adanya penumpukan cairan yang menyebabkan pembengkakan pada kelopak mata, pergelangan kaki, hingga kaki secara keseluruhan.
* Gejala Uremia: Rasa mual yang intens, muntah, kehilangan nafsu makan, hingga munculnya rasa besi pada lidah akibat menumpuknya zat racun dalam darah.
* Kelelahan Kronis dan Sesak Napas : Penurunan fungsi ginjal memicu anemia (kurang darah) yang membuat penderita mudah lelah, pucat, dan mengalami sesak napas akibat cairan yang mulai masuk ke area paru-paru.

Faktor Risiko dan Pentingnya Gaya Hidup
Lebih lanjut, dr. Raysa menjelaskan bahwa penyakit gagal ginjal kronis umumnya dipicu oleh penyakit penyerta (komorbid) yang tidak terkontrol dengan baik. Dua pemicu terbesar di Indonesia adalah penyakit diabetes melitus (kencing manis) dan hipertensi (tekanan darah tinggi).
Selain faktor penyakit, kebiasaan buruk masyarakat dalam mengonsumsi obat pereda nyeri (analgetik), jamu tradisional yang mengandung bahan kimia obat (BKO), serta minuman berenergi secara berlebihan tanpa pengawasan dokter juga menjadi faktor risiko rusaknya organ ginjal.
Untuk itu, berikut beberapa langkah preventif yang dapat dilakukan masyarakat sehari-hari :
* Menjaga Hidrasi tubuh: Mengonsumsi air putih minimal 2 liter atau sekitar 8 gelas sehari (disesuaikan dengan aktivitas fisik dan kondisi tubuh).
* Pola Makan Seimbang: Mengurangi konsumsi garam berlebih, membatasi makanan cepat saji, serta menjaga berat badan ideal agar terhindar dari obesitas.
* Kontrol Penyakit Penyerta: Bagi penderita diabetes dan hipertensi, diwajibkan untuk rutin mengonsumsi obat dari dokter guna menjaga kadar gula darah dan tekanan darah tetap stabil.
* Bijak Mengonsumsi Obat: Tidak membeli obat-obatan keras atau suplemen secara sembarangan tanpa resep dokter.
Sebagai penutup, dr. Raysa mengimbau masyarakat, terutama yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko, untuk melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium secara berkala, seperti tes urine dan tes fungsi ginjal (ureum dan kreatinin).
Melalui edukasi yang disiarkan oleh RRI Bukittinggi ini, diharapkan kesadaran masyarakat dapat meningkat, sehingga angka fatalitas akibat penyakit gagal ginjal di wilayah Sumatra Barat dan sekitarnya dapat ditekan secara signifikan. (NAS/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....