Heatwave di Eropa Memakan Korban, Mengapa Bisa Sangat Mematikan?

  • 29 Jun 2026 21:16 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Gelombang panas atau heatwave yang melanda Eropa dalam beberapa pekan terakhir telah menimbulkan dampak yang jauh lebih serius daripada sekadar rasa tidak nyaman. Suhu yang menembus 40 derajat Celsius di sejumlah negara menyebabkan meningkatnya jumlah korban jiwa, terutama di kalangan lansia dan kelompok rentan.

Dilansir dari berbagai sumber, data awal menunjukkan lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) tercatat di berbagai negara Eropa selama periode gelombang panas tersebut, dengan sekitar 1.000 di antaranya dilaporkan terjadi di Prancis.

Bagi masyarakat Indonesia, suhu 35 hingga 37 derajat Celsius mungkin terdengar biasa. Namun, situasinya berbeda di Eropa. Banyak rumah, sekolah, hingga fasilitas umum di sana dibangun untuk menghadapi musim dingin, bukan cuaca panas ekstrem. Akibatnya, tidak semua bangunan memiliki pendingin ruangan yang memadai sehingga suhu di dalam ruangan pun bisa sangat tinggi.

Kelompok yang paling terdampak adalah para lansia, penderita penyakit jantung, gangguan pernapasan, serta mereka yang tinggal sendirian. Saat suhu tubuh tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan panas lingkungan, risiko dehidrasi, serangan panas (heatstroke), hingga kegagalan organ meningkat secara drastis.

Selain menimbulkan korban jiwa, gelombang panas juga mengganggu kehidupan sehari-hari. Layanan kesehatan kewalahan menerima pasien, jaringan listrik mengalami tekanan akibat tingginya penggunaan pendingin udara, transportasi terganggu, dan kebakaran hutan terjadi di sejumlah wilayah.

Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas seperti ini menjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens dibandingkan beberapa dekade lalu. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa Eropa kini mengalami pemanasan dengan laju yang lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang dihadapi berbagai negara. Adaptasi melalui sistem peringatan dini, penyediaan ruang pendingin publik, penghijauan kota, dan kepedulian terhadap kelompok rentan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko pada gelombang panas berikutnya.

Heatwave di Eropa menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga langsung memengaruhi kesehatan dan keselamatan manusia. Kesadaran untuk menjaga lingkungan dan mengurangi emisi gas rumah kaca menjadi bagian dari upaya bersama agar peristiwa serupa tidak semakin sering terjadi di masa mendatang. (DKA/YPA)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....