Mahasiswa Kesmas UFDK Edukasi dan Surveilans DBD di Bukittinggi
- 05 Mei 2026 07:40 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Mahasiswa dan dosen peminatan epidemiologi Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Fort De Kock melaksanakan kegiatan edukasi dan surveilans Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Selasa, 5 Mei 2026 di Kelurahan Campago Ipuh, Kota Bukittinggi.
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam merespons meningkatnya kasus DBD di wilayah tersebut.


Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa yang tengah mendalami peminatan epidemiologi, didampingi langsung oleh dosen serta tenaga kesehatan dari puskesmas setempat dan kader kesehatan masyarakat. Mereka turun langsung ke lapangan dengan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah, menyasar kelompok masyarakat yang tergolong populasi rentan terhadap penularan DBD.
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan berbagai kegiatan penting, mulai dari menggali tingkat pemahaman masyarakat terkait penyakit DBD hingga melakukan pemeriksaan lingkungan rumah.
Mahasiswa memantau keberadaan jentik nyamuk pada tempat-tempat penampungan air serta memberikan edukasi terkait langkah-langkah pencegahan.

Salah satu fokus utama adalah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui metode 3M Plus, yaitu:
- Menguras tempat penampungan air
- Menutup rapat wadah air
- Mengubur atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air
Selain itu, masyarakat juga diajak menerapkan langkah tambahan seperti mendaur ulang kaleng bekas, menutup ventilasi dengan kain kasa, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa juga menerapkan inovasi berupa aplikasi edukasi dan surveilans DBD yang dikembangkan dalam peminatan epidemiologi. Aplikasi Survelans ini digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terkait kewaspadaan dini terhadap penularan DBD.
Data yang diperoleh dari aplikasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan strategi intervensi kesehatan masyarakat yang lebih efektif dan tepat sasaran di masa mendatang.
Ketua tim kegiatan, DR. Eka Budi Satria,MPH menegaskan bahwa kegiatan seperti ini memiliki peran penting dalam menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata di masyarakat.
“Kampus tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga harus hadir dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan kesehatan di tengah masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat dilakukan secara luas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang telah terinfeksi. Kota Bukittinggi sendiri termasuk daerah endemis, sehingga membutuhkan kewaspadaan tinggi dari masyarakat.
Gejala khas DBD yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak yang kemudian turun dan kembali naik (sering disebut demam “pelana kuda”), nyeri otot, serta tanda-tanda perdarahan ringan. Masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan pola hidup sehat guna mencegah penularan DBD. Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah.
Kegiatan edukasi dan surveilans ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat menjadi kunci dalam menekan angka penyebaran penyakit, khususnya DBD, di wilayah Kota Bukittinggi.
Dengan pendekatan edukatif dan partisipatif, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan perubahan perilaku masyarakat yang berkelanjutan serta memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit menular di lingkungan sekitar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....