Attachment Issue, Istilah Psikologi atau Tren TikTok?

  • 27 Mar 2026 18:01 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Istilah attachment issue semakin sering muncul di media sosial, terutama dalam konten TikTok yang membahas hubungan dan kesehatan mental. Banyak orang menggunakan istilah ini untuk menjelaskan pola hubungan yang rumit, seperti takut ditinggalkan atau sulit membuka diri. Popularitasnya membuat sebagian orang bertanya apakah ini benar konsep psikologi atau sekadar tren.

Secara ilmiah, konsep attachment berasal dari teori Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth. Teori ini menjelaskan bahwa pola keterikatan yang terbentuk sejak masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang menjalin hubungan di masa dewasa. Psychology Today dan berbagai literatur psikologi perkembangan mengakui adanya gaya keterikatan seperti secure, anxious, avoidant, dan fearful-avoidant.

Masalahnya, di media sosial istilah ini sering disederhanakan. Tidak semua konflik hubungan otomatis berarti seseorang memiliki “attachment issue”. Harvard Business Review pernah menyoroti bahwa label psikologis yang digunakan tanpa pemahaman mendalam dapat membuat orang terlalu cepat mengidentifikasi diri dengan diagnosis populer.

Meski begitu, meningkatnya pembahasan tentang attachment juga membawa sisi positif. Banyak orang menjadi lebih sadar akan pola emosionalnya dan mulai reflektif terhadap hubungan yang dijalani. Kesadaran ini bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki pola komunikasi dan membangun hubungan yang lebih sehat.

Pada akhirnya, attachment issue bukan sekadar tren TikTok, tetapi konsep psikologi yang memiliki dasar teori kuat. Namun, penting untuk memahaminya secara proporsional dan tidak menggunakannya sebagai label instan. Pemahaman yang tepat membantu kita berkembang, bukan sekadar mengikuti istilah yang sedang viral. (STP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....