Quarter Life Crisis Itu Nyata, atau Cuma Overthinking?

  • 27 Mar 2026 17:20 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Quarter life crisis merupakan istilah yang menggambarkan fase kebingungan dan kecemasan yang sering muncul di usia 20–30 tahun. Pada periode ini, banyak orang mulai mempertanyakan arah hidup, pilihan karier, hubungan, hingga pencapaian pribadi. Perasaan tertinggal atau tidak cukup berhasil sering muncul meskipun secara objektif hidup terlihat baik-baik saja.

Secara psikologis, fenomena ini tergolong nyata dan telah banyak dibahas dalam literatur perkembangan dewasa awal. Fase transisi menuju kemandirian finansial, stabilitas emosional, dan identitas diri memang membawa tekanan tersendiri. Psychology Today dan Harvard Business Review menyoroti bahwa ketidakpastian di tahap ini wajar terjadi karena individu sedang membangun fondasi jangka panjang hidupnya.

Namun, tidak semua kegelisahan di usia 20-an bisa langsung disebut krisis. Paparan media sosial sering memperbesar rasa perbandingan diri, sehingga pencapaian orang lain terlihat lebih cepat dan lebih mapan. Akibatnya, pikiran mudah terjebak dalam overthinking yang memperparah kecemasan.

Quarter life crisis biasanya ditandai dengan rasa bingung berkepanjangan, kehilangan motivasi, dan keraguan terhadap keputusan besar. Jika dikelola dengan refleksi yang sehat, fase ini justru bisa menjadi titik pertumbuhan. Banyak orang akhirnya menemukan arah hidup yang lebih jelas setelah melewati masa penuh tanda tanya tersebut.

Pada akhirnya, quarter life crisis bukan sekadar drama atau kelemahan pribadi. Ia adalah bagian dari proses pendewasaan yang menuntut keberanian menghadapi ketidakpastian. Yang membedakan hanyalah bagaimana seseorang meresponsnya: tenggelam dalam overthinking atau mengubahnya menjadi momen evaluasi dan perbaikan diri. (STP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....