Remaja Suka Manis, Waspada Diabetes Mengintai

  • 23 Feb 2026 10:25 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Jujur saja, siapa sih yang bisa menolak minuman manis dingin saat cuaca panas? Atau kopi susu kekinian yang lagi viral di media sosial? Belum lagi camilan cokelat, dessert lucu, dan makanan cepat saji yang rasanya bikin nagih. Buat banyak remaja, semua itu sudah jadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Tapi di balik rasa manis yang menyenangkan, ada risiko yang sering tidak kita sadari. Konsumsi gula berlebihan bisa meningkatkan risiko Diabetes melitus, bahkan sejak usia muda.

Diabetes Bukan Lagi “Penyakit Orang Tua”

Banyak orang masih berpikir diabetes hanya menyerang usia 40 tahun ke atas. Padahal sekarang, kasus Diabetes melitus tipe 2 sudah semakin sering ditemukan pada remaja.

Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak bisa menggunakan insulin dengan baik, sehingga kadar gula dalam darah terus tinggi. Penyebabnya? Pola makan tinggi gula, kurang gerak, sering duduk berjam-jam, dan berat badan berlebih.

Remaja yang terkena diabetes bisa merasa cepat lelah, sering haus, lebih sering buang air kecil, bahkan sulit fokus saat belajar. Kalau tidak dikontrol, dampaknya bisa lebih serius: gangguan mata, ginjal, hingga jantung di usia yang seharusnya masih produktif.

Kenapa Gula Terlihat “Aman” Padahal Berbahaya?

Masalahnya, gula itu tidak selalu terlihat jelas. Dalam satu gelas minuman kemasan, bisa saja terkandung gula setara beberapa sendok makan. Kalau diminum setiap hari, tubuh dipaksa bekerja ekstra untuk mengatur kadar gula darah.

Awalnya mungkin tidak terasa apa-apa. Tapi lama-kelamaan, tubuh bisa mengalami resistensi insulin. Artinya, insulin yang seharusnya membantu mengatur gula darah jadi kurang efektif. Inilah awal mula diabetes tipe 2.

Belum lagi kebiasaan ngemil sambil belajar atau main gawai. Tanpa sadar, asupan kalori terus bertambah, sementara aktivitas fisik minim. Energi yang tidak terpakai akhirnya disimpan sebagai lemak.

Dampaknya Tidak Hanya Fisik

Diabetes di usia muda bukan hanya soal angka gula darah. Penyakit ini bisa memengaruhi rasa percaya diri dan kondisi mental. Bayangkan harus rutin kontrol kesehatan, menjaga pola makan ketat, bahkan mungkin bergantung pada obat dalam jangka panjang.

Aktivitas sekolah, pergaulan, bahkan mimpi masa depan bisa terganggu jika kesehatan tidak dijaga sejak awal. Karena itu, pencegahan jauh lebih mudah dibanding mengobati.

Kebiasaan Kecil yang Perlu Diubah

Bukan berarti remaja tidak boleh makan manis sama sekali. Kuncinya ada pada keseimbangan. Beberapa langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan:

  • Kurangi minuman manis harian, lebih sering pilih air putih.
  • Batasi camilan tinggi gula, ganti dengan buah atau kacang.
  • Rutin bergerak minimal 30 menit sehari.
  • Jangan malas membaca label gizi pada kemasan.
  • Tidur cukup, karena kurang tidur juga bisa mengganggu metabolisme.

Perubahan kecil yang konsisten jauh lebih efektif daripada niat besar yang hanya bertahan beberapa hari.

Peran Lingkungan Itu Penting

Remaja tidak hidup sendiri. Dukungan orang tua, sekolah, dan teman sangat berpengaruh. Lingkungan yang mendukung pola makan sehat dan gaya hidup aktif akan mempermudah perubahan kebiasaan.

Ajakan sederhana seperti olahraga bareng, memilih jajanan lebih sehat, atau saling mengingatkan untuk tidak berlebihan bisa jadi langkah awal yang berarti. Rasa manis memang menyenangkan, tapi kesehatan jauh lebih berharga. Diabetes bukan lagi ancaman jauh di masa depan, melainkan risiko nyata bagi generasi muda hari ini.

Menjaga pola makan, aktif bergerak, dan lebih bijak memilih konsumsi bukan berarti membatasi kesenangan. Justru itu bentuk sayang pada diri sendiri. Karena masa muda seharusnya penuh energi dan semangat, bukan dihabiskan untuk mengatasi penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. (DEP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....