Burnout di Kalangan Gen Z
- 18 Feb 2026 14:46 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Belakangan ini, istilah burnout semakin sering terdengar, terutama di kalangan Gen Z. Burnout adalah kondisi fisik, mental, dan emosional yang terasa lelah atau habis energi akibat tekanan pekerjaan, studi, atau kehidupan sehari-hari yang terlalu berat. Tidak heran banyak Gen Z merasa mudah lelah, cemas, atau kehilangan motivasi, karena tekanan hidup dan ekspektasi yang tinggi di era digital. Gen Z, yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an, hidup di dunia yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah teknologi, media sosial, dan akses informasi yang cepat. Di satu sisi, kemudahan ini memberi peluang besar, seperti akses pendidikan online, peluang kerja fleksibel, dan koneksi global. Namun di sisi lain, hal ini juga memunculkan tekanan tersendiri. Gen Z cenderung ingin produktif setiap saat, mengikuti tren, dan selalu terlihat “berhasil” di mata orang lain. Kombinasi ini sering menjadi pemicu burnout.
Salah satu penyebab utama burnout adalah ekspektasi yang tinggi, baik dari diri sendiri maupun lingkungan. Banyak Gen Z merasa harus selalu unggul, memiliki prestasi, dan membandingkan diri dengan teman atau orang lain di media sosial. Hal ini membuat mereka jarang merasa puas, meskipun telah bekerja keras atau mencapai tujuan. Perasaan kurang cukup ini lambat laun menguras energi mental dan emosional. Selain itu, tekanan dari pekerjaan atau studi juga berperan besar. Banyak Gen Z yang memegang beberapa tanggung jawab sekaligus: pekerjaan utama, freelance atau side hustle, kuliah, dan kegiatan sosial. Kesibukan ini kadang membuat mereka lupa memberi waktu untuk istirahat, hobi, atau aktivitas offline yang menenangkan. Akibatnya, tubuh dan pikiran merasa terus-terusan terpaksa bekerja tanpa jeda.
Media sosial juga memperparah fenomena burnout. Melihat orang lain selalu produktif, sukses, atau punya pengalaman seru dapat memunculkan perasaan cemas atau FOMO (Fear of Missing Out). Gen Z sering merasa harus selalu setara atau bahkan lebih baik dari orang lain. Padahal, yang terlihat di media sosial biasanya hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang, bukan kenyataan sepenuhnya. Mengatasi burnout sebenarnya bisa dimulai dari langkah sederhana. Mengenali tanda-tanda adalah langkah pertama yaitu ditandai dengan rasa lelah berlebihan, sulit tidur, kehilangan motivasi, atau merasa mudah tersinggung. Selanjutnya, penting untuk menetapkan batasan. Misalnya, membatasi jam kerja atau belajar, mematikan notifikasi sementara, dan menyisihkan waktu untuk hobi atau aktivitas offline.
Selain itu, berbicara dengan teman, keluarga, atau konselor bisa membantu melegakan pikiran. Kadang hanya dengan menceritakan apa yang dirasakan, tekanan mental bisa berkurang. Aktivitas fisik seperti berjalan atau olahraga ringan juga terbukti membantu mengurangi stres. Fenomena burnout di kalangan Gen Z bukan hal yang sepele. Namun, dengan kesadaran diri, manajemen waktu, dan perawatan mental yang tepat, kondisi ini bisa dikurangi. Gen Z perlu menyadari bahwa produktivitas dan kesuksesan tidak harus mengorbankan kesehatan mental. Justru, memberi waktu bagi diri sendiri untuk istirahat dan menenangkan pikiran adalah bagian penting dari hidup yang seimbang dan sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....