Pola Asuh Demokratis Kunci Anak Siap Hadapi Kritik
- 27 Jan 2026 22:08 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kemampuan seseorang dalam menerima kritik dan perbedaan pendapat ternyata berakar kuat dari lingkungan keluarga. Psikolog Rashida Anggun Intan mengungkapkan bahwa pola komunikasi antara orang tua dan anak menjadi fondasi utama apakah seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang terbuka atau justru defensif terhadap masukan.
Dalam program "Kita Indonesia" di RRI Bukittinggi, Rashida menjelaskan bahwa cara ayah dan ibu merespons perkataan anak di rumah sangat berpengaruh pada bagaimana anak tersebut merespons lingkungan sosialnya di masa depan.
"Bagaimana orang tua merespon setiap apa yang anaknya sampaikan itu berpengaruh besar. Relasi sosial anak bisa terganggu jika komunikasi di rumah tidak berjalan baik," ujar Rashida.
| Baca juga: Pentingnya Sarapan untuk Memulai Aktivitas |
Bahaya Pola Asuh Otoriter Rashida menyoroti bahwa pola asuh otoriter yang cenderung kaku, suka marah, dan selalu memaksakan kehendak dapat berdampak buruk pada mental anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan ini biasanya akan merasa "ternodai" atau sangat tersakiti ketika menerima kritik sekecil apa pun saat mereka dewasa.
Pentingnya Pola Asuh Demokratis (Otoritatif) Sebagai solusi, psikolog ini menyarankan penerapan pola asuh demokratis atau otoritatif. Dalam pola ini, orang tua tidak hanya memberi nasihat searah, tetapi mengedepankan diskusi dan mendengarkan perasaan anak.
"Anak diajak diskusi. Misalnya bertanya, 'menurut kamu teman itu baiknya seperti apa?'. Dengan begitu, saat dewasa dan dikritik, anak akan lebih open minded dan bisa merespons dengan tenang, misalnya dengan berkata: 'Oh iya ya, menurut kamu saya seperti itu ya, lalu harusnya saya bagaimana?'," jelas Rashida memberikan contoh.
| Baca juga: Tips Sehat Mengatasi Masuk Angin |
Peran Vital Sosok Ayah, Rashida menekankan bahwa kehadiran dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan (fathering) memiliki dampak signifikan pada kecerdasan (IQ) dan ketahanan mental anak. Anak yang memiliki ikatan (bonding) yang kuat dengan ayahnya cenderung lebih mampu memproteksi diri dari dampak negatif perundungan (bullying) di sekolah.
"Peran ayah itu sampai kapan pun sangat dibutuhkan anak, baik anak laki-laki maupun perempuan," tambahnya.
Rashida berpesan agar para orang tua mulai membiasakan dialog harian di rumah, misalnya saat makan malam atau sebelum tidur. Dengan menciptakan ruang diskusi yang sehat di rumah, orang tua sedang mempersiapkan anak-anak mereka untuk menjadi pribadi yang matang, bijaksana, dan lapang dada dalam menghadapi dinamika dunia luar. (DR/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....