Mythomania, Kisah Gelap di Balik Kebohongan Kronis

  • 13 Jun 2025 14:39 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi: Pernahkah bertemu seseorang yang sering bercerita secara dramatis begitu meyakinkan, tapi kemudian kamu merasa, “Ini kayaknya terlalu sempurna untuk jadi kenyataan”? Bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan seseorang yang mengalami mythomania.

Mythomania, atau dalam istilah medis disebut juga pseudologia fantastica, adalah kondisi psikologis di mana seseorang berbohong secara kompulsif dan kronis. Yang membuatnya unik, kebohongan ini sering kali tidak dimotivasi oleh keuntungan pribadi secara langsung, tapi lebih karena dorongan internal yang sulit dikendalikan.

Kebohongan pada mythomania bukanlah seperti “white lies” yang kita semua mungkin pernah lakukan untuk menghindari konflik atau menjaga perasaan orang lain. Orang dengan mythomania cenderung berbohong tanpa alasan yang logis, menciptakan cerita yang rumit, dramatis, bahkan terkadang tampak seperti fiksi, dan sering kali terlihat benar-benar percaya pada cerita yang mereka ciptakan sendiri.

Lebih jauh lagi, mereka kerap tidak merasa bersalah, atau bahkan tidak menyadari bahwa apa yang mereka sampaikan sebenarnya adalah kebohongan.

Menurut Dr. Charles Dike, psikiater dari Yale University, “Pseudologia fantastica biasanya melibatkan cerita yang memiliki unsur kenyataan dan kebohongan yang saling bercampur. Hal ini membuatnya sulit dikenali dan sering kali sangat meyakinkan bagi orang lain.”

Setiap orang punya alasan di balik perilakunya termasuk mereka yang mengalami mythomania. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti pengalaman masa kecil yang traumatis di mana berbohong menjadi cara bertahan, kebutuhan untuk merasa diterima atau dikagumi, gangguan kepribadian seperti narsistik atau histrionik yang menempatkan citra diri sebagai pusat, hingga kasus langka seperti kerusakan pada otak bagian frontal .

Karena itu, mythomania bukan sekadar soal moral atau niat buruk, melainkan sering kali berakar pada luka emosional atau gangguan psikologis yang lebih dalam.

Banyak penderita mythomania tidak menyadari bahwa mereka memiliki masalah, sehingga langkah pertama menyadari dan mengakui kondisi tersebut sering kali menjadi tantangan terbesar.

Setelah kesadaran itu tumbuh, pendekatan seperti terapi kognitif-perilaku (CBT) dapat sangat membantu, terutama dalam mengidentifikasi pola pikir yang tidak sehat, membangun harga diri tanpa harus menciptakan realitas palsu, serta belajar menghadapi kenyataan dengan jujur, termasuk bagian yang paling tidak nyaman.

Psikiater William Healy, yang pertama kali meneliti kondisi ini secara mendalam pada awal 1900-an, menekankan bahwa memahami latar belakang psikologis penderita merupakan kunci penting agar proses terapi benar-benar efektif. (AS/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....