Daun Katuk: Solusi Lokal Cegah Stunting

  • 24 Apr 2025 10:01 WIB
  •  Bukittinggi

KBRN, Bukittinggi: Di tengah hiruk pikuk dunia modern, di mana suplemen dan produk instan menjamur, ada satu tanaman sederhana yang tetap bertahan sebagai andalan ibu-ibu Indonesia yaitu daun katuk.

Tanaman dengan nama latin Sauropus androgynus ini mungkin tak menarik perhatian. Daunnya kecil, hijau gelap, tumbuh rimbun di pekarangan rumah, sering dijadikan pagar hidup atau pembatas kebun. Tapi jangan remehkan. Dalam tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan. Daun katuk telah lama dipercaya sebagai booster ASI alami.

Sebelum ada istilah “laktasi” dan botol-botol vitamin menyusui, ibu-ibu zaman dulu sudah punya jurusnya sendiri. Salah satunya ya, daun katuk ini. Diolah menjadi sayur bening yang hangat, tumisan dengan tempe, atau sekadar direbus dan dijadikan lalapan. Rasanya gurih dan lembut—membuatnya mudah diterima lidah, bahkan bagi ibu yang sedang dalam masa nifas.

Yang menarik, kepercayaan ini bukan sekadar mitos. Beberapa penelitian modern membuktikan bahwa daun katuk mengandung senyawa aktif seperti laktagogum yang merangsang produksi hormon prolaktin dan oksitosin, dua hormon utama dalam proses menyusui. Selain itu, kandungan gizinya tak main-main. Mengutip dari Data Komposisi Pangan Indonesia, kandungan gizi yang terdapat pada daun katuk adalah vitamin A, vitamin B2, vitamin B3, serta vitamin C selain itu dalam 100 gram daun katuk mengandung nutrisi-nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh di antaranya karbohidrat 9,9 gram, kalsium 233 mg, kalori 59 kal, zat besi 3,5 mg, natrium 21 mg, serat 1,5 gram, kalium 478,8 mg, fosfor 98 mg dan lemak 1,0 gram. Semua hadir dalam balutan daun mungil ini.

Dalam upaya mengatasi stunting dan meningkatkan gizi keluarga, tanaman seperti daun katuk sebetulnya punya peran penting. Ia tumbuh cepat, tidak butuh perawatan rumit, dan bisa dipanen berkali-kali. Bayangkan jika setiap rumah menanam satu rumpun daun katuk tak hanya menyuburkan pekarangan, tapi juga mendukung kesehatan generasi masa depan.

Kini, daun katuk tak hanya hadir di meja makan rumah-rumah tradisional. Beberapa pelaku usaha mulai mengemasnya dalam bentuk kapsul, teh herbal, smoothie sachet bahkan dendeng daun katuk. Tapi di balik semua inovasi itu, satu hal tetap sama: kepercayaan bahwa alam menyediakan solusi selama kita tahu caranya merawat dan menghargainya.

Di tengah gempuran tren dan gaya hidup cepat, daun katuk mengingatkan kita bahwa kadang, jawaban terbaik ada di belakang rumah. Hijau, sederhana, dan penuh makna. (SG)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....