FOMO dan Jejak Digital: Generasi Muda Diajak Lebih Bijak Bermedia Sosial

  • 30 Sep 2026 21:10 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin akrab dengan kehidupan generasi muda di era digital. Keinginan untuk selalu mengikuti tren yang sedang viral di media sosial sering kali membuat seseorang lupa mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap unggahan yang dibuat.

Hal tersebut menjadi topik pembahasan dalam program Cakap Digital Pro 1 RRI Bukittinggi yang menghadirkan narasumber Hana Azzahra, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Padang. Dalam dialog tersebut, Hana menjelaskan bahwa cakap digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami etika dan tanggung jawab dalam memanfaatkan media digital.

Menurut Hana, FOMO muncul karena seseorang terus-menerus membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang dilihat melalui media sosial. Berbagai unggahan mengenai pencapaian, gaya hidup, hingga tren terbaru dapat memicu rasa takut tertinggal sehingga mendorong seseorang mengikuti sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebutuhan atau kondisi dirinya.

“Sering kali kita sibuk membandingkan proses hidup kita dengan orang lain, padahal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perkembangan diri kita dari hari ke hari,” ujarnya.

Ia menambahkan, dorongan untuk mengikuti tren tanpa pertimbangan matang dapat berdampak pada jejak digital seseorang. Konten yang diunggah ke internet berpotensi tersimpan dalam waktu lama dan dapat disebarluaskan kembali oleh pengguna lain meskipun telah dihapus dari akun pribadi.

Dalam dunia kerja saat ini, jejak digital bahkan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan oleh perusahaan maupun organisasi saat menilai calon pekerja atau anggota. Karena itu, setiap unggahan di media sosial perlu dipikirkan dengan matang agar tidak menimbulkan dampak negatif di masa depan.

Selain itu, Hana menyoroti budaya “viral dulu, pikir belakangan” yang masih banyak ditemukan di kalangan pengguna media sosial. Menurutnya, keinginan memperoleh perhatian atau meningkatkan jumlah pengikut sering membuat seseorang mengabaikan konsekuensi dari konten yang dibagikan.

“Yang penting viral bukanlah pola pikir yang baik. Kita harus memikirkan dampaknya, baik terhadap reputasi maupun kesehatan mental ketika menerima respons negatif dari publik,” katanya.

Untuk menghindari FOMO, Hana menyarankan pengguna media sosial menerapkan batasan dalam mengonsumsi konten. Pengguna perlu lebih selektif memilih informasi dan akun yang diikuti, serta fokus pada konten yang memberikan manfaat dan inspirasi positif.

Ia juga menekankan pentingnya membangun personal branding yang positif sejak usia muda. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana menunjukkan kemampuan, karya, dan prestasi yang dimiliki sehingga memberikan nilai tambah bagi masa depan.

Terkait perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Hana mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi. Menurutnya, AI dapat digunakan untuk menghasilkan berbagai konten yang belum tentu sesuai fakta sehingga diperlukan kemampuan literasi digital untuk melakukan verifikasi sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi.

Di akhir dialog, Hana mengajak generasi muda menjadikan media sosial sebagai ruang untuk belajar, berkarya, dan berbagi inspirasi. Ia berharap pengguna media sosial dapat lebih bijak dalam setiap aktivitas digital agar mampu membangun jejak digital yang positif dan bermanfaat bagi masa depan.

“Gunakan media sosial untuk bertumbuh dan berkarya. Bangun citra diri yang baik, gunakan dengan etika, dan bertanggung jawablah atas setiap aktivitas digital yang dilakukan,” pungkasnya.(DP)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....