Burnout ditengah Rutinitas Padat? Bisa Dihindari!

  • 27 Agt 2026 14:36 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi – Rutinitas yang padat sering membuat kita merasa harus terus bergerak, seolah berhenti sebentar berarti tertinggal. Padahal, data Gallup dalam State of the Global Workplace 2026 menunjukkan bahwa pada 2025 sekitar 40% pekerja di dunia mengalami stres berat pada hari sebelumnya, sementara di Indonesia angkanya 14%.

Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah bekerja seharian, tetapi kondisi yang berkaitan dengan stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola. WHO menjelaskan burnout melalui tiga tanda utama, yaitu kehabisan energi, munculnya sikap sinis atau menjaga jarak dari pekerjaan, serta menurunnya rasa efektif dalam bekerja.

Cara paling sederhana untuk mencegahnya adalah belajar mengenali batas diri, mulai dari berani mengatakan “tidak” pada pekerjaan yang memang bisa ditunda sampai memberi jeda di antara aktivitas yang menumpuk. Jangan merasa bersalah untuk istirahat, karena WHO juga menekankan bahwa beban kerja berlebihan, tekanan waktu, minimnya kontrol terhadap pekerjaan, dan kurangnya dukungan dapat meningkatkan risiko stres serta burnout.

Selain mengatur pekerjaan, jangan abaikan hal-hal kecil yang membuat hidup terasa lebih manusiawi, tidur cukup, makan dengan teratur, bergerak, bertemu orang yang membuat nyaman, dan menyediakan waktu tanpa notifikasi pekerjaan. Kita tidak harus produktif setiap menit, sebab hidup bukan perlombaan untuk membuktikan bahwa kita mampu melakukan semuanya sekaligus.

Pada akhirnya, menghindari burnout bukan berarti mengurangi ambisi, tetapi belajar menjaga energi agar kita bisa terus berjalan tanpa kehilangan diri sendiri di tengah perjalanan. Kalau hari ini terasa terlalu penuh, mungkin yang kita butuhkan bukan bekerja lebih keras, melainkan berhenti sebentar, menarik napas, lalu memilih kembali apa yang benar-benar penting.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....