Digital Detox, Perlukah Kita Puasa Media Sosial?

  • 28 Jul 2026 07:46 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Penggunaan media sosial meningkat pesat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di platform digital.

Kemudahan akses informasi membuat media sosial sulit untuk ditinggalkan. Aktivitas ini perlahan menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan.

Menurut American Psychological Association, penggunaan berlebihan berdampak mental. “Paparan media sosial berlebih dapat meningkatkan kecemasan dan depresi” (APA, 2019).

Digital detox muncul sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi. Konsep ini mengajak individu membatasi penggunaan perangkat digital secara sadar.

Dengan mengurangi waktu layar, seseorang dapat lebih fokus pada kehidupan nyata. Interaksi sosial langsung menjadi lebih berkualitas dan bermakna.

Penelitian dari University of Pennsylvania menunjukkan manfaatnya. “Mengurangi media sosial menurunkan kesepian dan depresi secara signifikan” (Hunt et al., 2018).

Namun, tidak semua orang mudah menjalani digital detox secara konsisten. Banyak pekerjaan dan aktivitas bergantung pada koneksi digital setiap hari.

Selain itu, rasa takut tertinggal informasi sering menjadi hambatan utama. Individu merasa perlu tetap terhubung untuk mengikuti perkembangan terbaru.

Menurut World Health Organization, keseimbangan digital penting dijaga. “Kesehatan mental dipengaruhi oleh pola hidup dan manajemen stres” (WHO, 2022).

Digital detox tidak berarti harus sepenuhnya meninggalkan teknologi modern. Penggunaan yang bijak dan terkontrol menjadi kunci utama.

Kesimpulannya, digital detox perlu dipertimbangkan di era serba digital ini. Mengatur waktu penggunaan media sosial membantu menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup. (APS/YPA)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....