Fear of Missing Out (FOMO), "Dampak Psikologisnya Nyata"
- 28 Jul 2026 07:43 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Fear of Missing Out atau FOMO semakin umum terjadi di era digital. Fenomena ini muncul akibat kekhawatiran tertinggal pengalaman orang lain.
Media sosial menjadi pemicu utama munculnya perasaan FOMO pada banyak individu. Konten yang menampilkan kesuksesan sering memicu perbandingan sosial.
Menurut American Psychological Association, FOMO berkaitan dengan kesejahteraan mental. “FOMO dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan kepuasan hidup” (APA, 2017).
Individu dengan FOMO cenderung terus memantau aktivitas orang lain secara berlebihan. Hal ini membuat mereka sulit fokus pada kehidupan sendiri.
Selain itu, FOMO juga dapat memengaruhi kualitas tidur seseorang. Penggunaan media sosial berlebihan sering terjadi hingga larut malam.
Penelitian dari University of Essex menunjukkan dampak nyata fenomena ini. “FOMO berkorelasi dengan stres dan kelelahan emosional pada pengguna media sosial” (Przybylski et al., 2013).
Perasaan tertinggal sering menimbulkan tekanan untuk selalu terlibat dalam berbagai aktivitas. Akibatnya, individu merasa lelah secara mental dan emosional.
FOMO juga dapat memicu perilaku impulsif dalam mengambil keputusan. Misalnya, membeli sesuatu atau mengikuti tren tanpa pertimbangan matang.
Menurut World Health Organization, kesehatan mental perlu dijaga secara seimbang. “Paparan stres berkepanjangan dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang” (WHO, 2022).
Mengatasi FOMO memerlukan kesadaran dan pengelolaan penggunaan media sosial. Membatasi waktu layar dapat membantu mengurangi tekanan psikologis.
Kesimpulannya, FOMO memiliki dampak psikologis yang nyata bagi individu. Mengelola emosi dan penggunaan teknologi menjadi kunci menjaga kesehatan mental. (APS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....