QRIS, dan Cashless Society, Nyaman atau Bikin Boros?
- 28 Jul 2026 07:40 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Perkembangan teknologi pembayaran digital semakin pesat dalam beberapa tahun terakhir. QRIS menjadi salah satu inovasi yang mendorong masyarakat menuju transaksi tanpa uang tunai.
QRIS memudahkan pembayaran hanya dengan satu kode untuk berbagai aplikasi. Sistem ini mempercepat transaksi dan mengurangi kebutuhan membawa uang fisik.
Menurut Bank Indonesia, QRIS dirancang untuk efisiensi transaksi nasional. “QRIS menyatukan berbagai metode pembayaran digital dalam satu standar” (Bank Indonesia, 2020).
Kemudahan ini membuat masyarakat semakin terbiasa dengan sistem cashless. Aktivitas belanja menjadi lebih praktis tanpa perlu menghitung uang kembalian.
Namun, kemudahan tersebut juga memicu kekhawatiran perilaku konsumtif. Transaksi digital sering terasa tidak nyata dibandingkan penggunaan uang tunai.
Penelitian dari Harvard Business School menunjukkan perubahan perilaku pembayaran. “Orang cenderung membelanjakan lebih banyak saat menggunakan metode non-tunai” (Prelec & Simester, 2001).
Fenomena ini terjadi karena berkurangnya rasa kehilangan saat mengeluarkan uang digital. Pengguna tidak melihat uang secara fisik sehingga kontrol pengeluaran melemah.
Di sisi lain, QRIS juga membantu pencatatan keuangan menjadi lebih rapi. Riwayat transaksi tersimpan otomatis dan dapat dipantau kapan saja.
Menurut World Bank, digitalisasi keuangan meningkatkan inklusi finansial masyarakat. “Akses pembayaran digital memperluas layanan keuangan bagi masyarakat luas” (World Bank, 2022).
Namun, literasi keuangan menjadi faktor penting dalam penggunaan teknologi ini. Tanpa pengelolaan yang baik, kemudahan justru berpotensi menimbulkan pemborosan.
Kesimpulannya, QRIS membawa kenyamanan sekaligus tantangan bagi pengguna. Bijak menggunakan teknologi menjadi kunci agar cashless tidak berujung boros. (APS/YPA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....