AI Mengubah Dunia Kerja: Siapa Bertahan, Siapa Tergeser?
- 28 Jul 2026 07:39 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Perkembangan kecerdasan buatan mengubah cara manusia bekerja secara drastis. Banyak tugas kini dapat diselesaikan mesin dengan cepat dan akurat.
Transformasi ini menciptakan peluang baru sekaligus ancaman bagi pekerja tradisional. Tidak semua profesi mampu bertahan menghadapi otomatisasi berbasis AI.
Menurut laporan World Economic Forum, perubahan ini akan memengaruhi jutaan pekerjaan global. “AI akan menggantikan beberapa pekerjaan, namun juga menciptakan peran baru” (World Economic Forum, 2023).
Pekerjaan rutin dengan pola berulang menjadi paling rentan tergeser oleh teknologi. Misalnya administrasi dasar, input data, dan pekerjaan manufaktur sederhana.
Di sisi lain, profesi yang membutuhkan kreativitas dan empati cenderung lebih bertahan. Bidang seperti pendidikan, kesehatan, dan seni masih memerlukan sentuhan manusia.
Kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama menghadapi perubahan dunia kerja modern. “Keterampilan digital dan berpikir kritis akan semakin dibutuhkan di masa depan” (McKinsey Global Institute, 2022).
Perusahaan juga mulai mengubah strategi rekrutmen dan pelatihan karyawan mereka. Mereka mencari individu yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi canggih.
Reskilling dan upskilling menjadi langkah penting agar pekerja tetap relevan. Pelatihan berkelanjutan membantu individu memahami teknologi dan memanfaatkannya secara optimal.
Namun, kesenjangan keterampilan masih menjadi tantangan besar di banyak negara. “Ketimpangan akses pelatihan dapat memperlebar jurang ekonomi” (International Labour Organization, 2021).
Pada akhirnya, AI bukan sekadar ancaman, tetapi juga peluang besar bagi manusia. Mereka yang mau belajar dan beradaptasi akan bertahan bahkan berkembang pesat. (APS/YPA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....