Fenomena “Brain Rot”, karena Terlalu Banyak Konten Pendek

  • 14 Jul 2026 12:05 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Istilah “brain rot” semakin sering dipakai untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa otaknya “penuh”, sulit fokus, dan cepat bosan setelah terlalu banyak melihat konten pendek. Video 15 detik, scroll tanpa henti, dan konten yang terus berganti membuat kita terbiasa menerima banyak informasi dengan sangat cepat. Akibatnya, hal-hal yang butuh waktu lebih lama mulai terasa membosankan.

Konten pendek memang dirancang agar langsung menarik perhatian. Dalam beberapa detik pertama, video harus lucu, mengejutkan, atau membuat penasaran. Menurut berbagai penelitian, pola ini membuat otak terbiasa mendapatkan rangsangan cepat dan terus-menerus. Lama-kelamaan, kita jadi lebih sulit bertahan pada aktivitas yang lebih lambat seperti membaca, belajar, atau menonton sesuatu yang butuh fokus lebih lama.

Selain itu, setiap kali kita scroll dan menemukan video baru, otak mendapat sedikit dorongan dopamin. Karena itu, kita terus ingin melihat konten berikutnya dan sulit berhenti. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa terlalu sering mengonsumsi konten pendek dapat membuat rentang perhatian menurun dan meningkatkan rasa gelisah saat tidak ada stimulasi.

Fenomena brain rot juga membuat banyak orang merasa pikirannya lebih cepat lelah. Kita terus menerima begitu banyak informasi, tetapi tidak benar-benar memprosesnya. Akibatnya, otak terasa penuh, tetapi tidak banyak hal yang benar-benar diingat.

Padahal, bukan berarti konten pendek selalu buruk. Masalahnya muncul ketika kita terlalu terbiasa dengan kecepatan itu. Semakin sering otak diberi hal yang serba cepat, semakin sulit juga bagi kita untuk menikmati hal-hal yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan perhatian. (STP/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....