Dosen Dituntut Ubah Paradigma Melalui Kurikulum Berbasis Capaian
- 02 Jul 2026 14:25 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Paradigma pendidikan tinggi di Indonesia kini mengalami pergeseran fundamental dari pendekatan tradisional yang berpusat pada materi (content-based) menuju pendekatan berbasis capaian (Outcome-Based Education/OBE). Perubahan ini menuntut kesiapan para dosen untuk merombak total rancangan pembelajaran, mulai dari perumusan target hingga metode evaluasi di kelas.
Tantangan dan strategi transformasi kurikulum tersebut mengemuka dalam Workshop Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Bukittinggi bertajuk "Konsep RPS OBE, Implementasi, dan Evaluasi". Acara yang berlangsung pada 1–2 Juli 2026 ini menghadirkan Guru Besar UIN Ar-Raniry Aceh, Prof. Dr. Teuku Zulfikar, sebagai narasumber utama.

Dekan FTIK UIN Bukittinggi, Dr. Junaidi, menegaskan bahwa perubahan kurikulum ini merupakan keniscayaan dalam menyikapi dinamika zaman yang bergerak eksponensial. Pendidikan tinggi tidak boleh terjebak dalam pola-pola lama yang usang jika ingin melahirkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat modern.
Selaras dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FTIK, Dr. Widya Syafitri, menambahkan bahwa adaptasi kurikulum ke arah OBE ini diharapkan mampu mendongkrak mutu akademis prodi secara signifikan, sekaligus memastikan proses pembelajaran berjalan lebih interaktif, terukur, dan berbasis pada kompetensi riil mahasiswa.
Dalam paparannya, Prof. Teuku Zulfikar menggarisbawahi bahwa transisi menuju OBE kerap kali menyisakan persoalan teknis di tingkat pengajar. Berdasarkan analisis materi workshop mengenai permasalahan umum rancangan pembelajaran semester, terdapat enam hambatan utama yang sering dihadapi dosen saat menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis OBE.
Persoalan tersebut, menurutnya, bermula dari ketidakjelasan dalam merumuskan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang terukur, hingga kesulitan memetakan serta menyelaraskan (mapping and aligning) seluruh komponen materi agar mendukung capaian akhir. Selain itu, pemilihan metode pengajaran sering kali belum efektif dan belum berpusat pada mahasiswa, ditunjang dengan kendala penyusunan instrumen penilaian (assessment) yang valid, manajemen waktu dan beban kerja (workload) yang kurang realistis, serta keterbatasan akses dalam memperbarui sumber daya bahan ajar.
Menurut Teuku Zulfikar, OBE bukan sekadar dokumen administratif di atas kertas, melainkan komitmen nyata untuk memastikan setiap mahasiswa memiliki kompetensi riil yang dapat diukur setelah menyelesaikan perkuliahan.Untuk mengatasi hambatan tersebut, kurikulum berbasis OBE mensyaratkan perubahan radikal pada strategi instruksional di ruang kelas. Dosen tidak lagi memosisikan diri sebagai satu-satunya pusat informasi, melainkan sebagai fasilitator yang mendorong kemandirian belajar mahasiswa secara penuh.
Berdasarkan materi workshop mengenai promosi otonomi mahasiswa, Prof. Teuku Zulfikar menekankan pentingnya menumbuhkan kemandirian tersebut melalui enam pilar taktis. Langkah ini dimulai dengan menyediakan pilihan yang bermakna (provide meaningful choice) guna memberi ruang mahasiswa mengambil keputusan, serta mendorong regulasi diri (encourage self-regulation) agar mereka mampu merencanakan target belajarnya sendiri.
Lebih lanjut, dosen harus memacu pemecahan masalah mandiri (promote independent problem solving), memanfaatkan metode pembelajaran aktif melalui peer-teaching dan fleksibilitas kelas, membangun lingkungan yang suportif demi mengatrol rasa percaya diri dan resiliensi akademik, hingga menumbuhkan rasa memiliki (promote ownership) melalui rutinitas terstruktur agar mahasiswa bertanggung jawab penuh atas hasil belajar mereka.
Salah satu pengejawantahan konkret dari otonomi tersebut adalah dengan menggeser siklus pembelajaran konvensional menuju model Problem-Based Learning (PBL). Melalui bagan perbandingan siklus pembelajaran, terlihat perbedaan kontras antara pembelajaran tradisional dan PBL. Pada model tradisional, mahasiswa sekadar diposisikan pasif—diberi tahu informasi, menghafalnya, lalu diberikan tugas untuk mengilustrasikan penerapan dari apa yang dihafal.
Sebaliknya, siklus PBL justru membalik logika tersebut dengan langsung menghadapkan mahasiswa pada masalah nyata (problem assigned). Dari masalah itulah mahasiswa dipicu untuk mengidentifikasi apa yang perlu mereka ketahui, lalu secara mandiri dan kolaboratif mempelajari serta menerapkan konsep-konsep baru melalui siklus presentasi, investigasi, analisis bersama, hingga refleksi dan asesmen akhir.
Kehadiran Prof. Teuku Zulfikar dalam rangkaian agenda akademik di UIN Bukittinggi ini juga memperkuat jalinan kolaborasi yang telah lama terbangun. Selain menjadi narasumber, pakar metodologi pengajaran bahasa ini diketahui telah lama mendedikasikan kepakarannya sebagai salah satu reviewer ahli untuk Journal of Modality: Applied Linguistics Journal, sebuah jurnal ilmiah bidang linguistik terapan yang diterbitkan oleh UIN Bukittinggi.
Rekam jejak kemitraan yang panjang dalam dewan penyuntingan ini tidak hanya mengokohkan implementasi kurikulum OBE di tingkat program studi, melainkan juga secara berkelanjutan terus mengawal dan mendongkrak
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....