Mengetuk Hati, Menuntun Akal: Menghidupkan Kembali Roh PAI
- 27 Jun 2026 20:20 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi — Pendidikan agama seharusnya menjadi benteng moralitas dan oase spiritual bagi generasi muda. Namun, realitas hari ini kerap kali menampilkan wajah yang paradoks. Sekolah yang digadang-gadang sebagai ruang aman, justru tidak luput dari bayang-bayang kelam kekerasan seksual. Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar: sejauh mana Pendidikan Agama Islam (PAI) mampu menghujam ke dalam jiwa peserta didik, bukan sekadar menjadi tumpukan hafalan di atas kertas?
Keprihatinan mendalam inilah yang disuarakan oleh Dr. Albert Nashir Dt.Bilang dalam wawancaranya bersama RRI di Bukittinggi, Kamis (25/6/2026). Dosen Universitas Deztron Indonesia (UDI) ini menyoroti kontradiksi yang terjadi di dunia pendidikan kita saat ini.
"Ada paradoks yang memilukan. Di satu sisi kita gencar mengajarkan nilai-nilai moral, namun di sisi lain, kekerasan seksual justru terjadi di lingkungan sekolah. Kita harus jujur mengevaluasi, sejauh mana PAI benar-benar memberikan pengaruh nyata pada perilaku peserta didik sehari-hari," ujar Dr. Albert dengan nada masygul.
Formula '5 D' untuk Guru Agama
Menurut Dr. Albert Nashir pembelajaran agama harus bertransformasi. PAI tidak boleh lagi diajarkan secara kaku, melainkan harus dikemas agar mampu menggugah hati, mengajak siswa berpikir kritis, dan yang terpenting, bermuara pada pengamalan nyata.
Gagasan ini sebenarnya telah ia bedah secara mendalam saat menjadi narasumber pada Talk Show Pendidikan yang digelar oleh Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) Kota Payakumbuh, Rabu (17/6) lalu. Di hadapan para pendidik, Sekretaris Forum Pondok Pesantren Sumatra Barat ini membagikan kiat taktis agar PAI diminati dan berdampak besar, yang ia formulasikan dalam Kiat 5 D
- Diterima
Kehadiran guru harus benar-benar diterima oleh murid. Hal ini hanya bisa terjadi jika murid merasa butuh akan sosok sang guru, bukan sekadar menganggapnya sebagai pelengkap jadwal pelajaran. - Didengar
Guru harus mampu membangun komunikasi yang komunikatif dan memikat, sehingga setiap untaian nasihat dan materi yang disampaikan didengar dengan penuh takzim oleh siswa. - Dipahami
Materi PAI tidak boleh disampaikan secara rumit atau doktriner. Guru dituntut menyajikan Islam yang membumi, sehingga esensi ajaran agama dapat dipahami nalar kritis murid. - Diamalkan
Inilah muara dari ilmu. Apa yang diaktifkan dan dicontohkan oleh guru, harus mampu menggerakkan hati murid untuk melakukannya atau mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. - Dikenang
Ketika seluruh tahapan di atas terpenuhi, sosok guru tersebut tidak akan lekang oleh waktu. Ia akan terus dikenang sebagai teladan hidup, bahkan setelah muridnya lulus.
"Tantangan dunia pendidikan ke depan jelas tidak mudah. Melalui formulasi spiritual dan metodologis seperti Kiat 5 D ini, PAI diharapkan tidak lagi sekadar menjadi mata pelajaran pengisi rapor, melainkan pembebas dari dekadensi moral yang tengah melanda negeri," harap alumnus Doktor Ilmu Pendidikan Agama Islam UIN Bukittinggi ini. ()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....