Dr. Irwandi Nashir: 'Aisyiyah Harus Hidupkan Tiga Matra Kesadaran Umat

  • 21 Jun 2026 07:07 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Padamg Panjang - Puncak perayaan Milad ke-109 Tahun 'Aisyiyah yang berlangsung khidmat di Aula Kompleks Muhammadiyah Kauman Padang Panjang, Ahad, 21/6/2026, menjadi momentum penguatan ideologi yang mendalam.

Di hadapan warga 'Aisyiyah dari wilayah Padangpanjang, Batipuh, dan X Koto (Pabasko), Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Payakumbuh, Dr.Irwandi Nashir, menegaskan pentingnya umat Islam merawat tiga matra kesadaran guna menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks.

Dalam ceramahnya Dr. Irwandi Nashir menguraikan konsep fundamental yang disebutnya sebagai Risalah al-Idraak (Ajaran Kesadaran). Menurutnya, keberadaan gerakan perempuan berkemajuan 'Aisyiyah yang telah melintasi usia satu abad lebih tidak lepas dari keteguhan dalam merawat kesadaran berjenjang. Cetak biru kesadaran ini diisyaratkan secara runut dalam Al-Qur'an Surat Al-Anfal ayat 24, 25, dan 26.

  1. Idraakudzzati, yaitu menghidupkan jiwa Lewat kesadaran diri. Matra kesadaran pertama yang disoroti akademisi senior ini adalah kesadaran diri yang murni (Idrakudzzati), sebagaimana diisyaratkan dalam Surat Al-Anfal ayat 24.

Dr. Irwandi menekankan bahwa setiap seorang mukmin harus memiliki keintiman spiritual dan intelektual dalam merespons panggilan Allah dan Rasul-Nya.

"Memenuhi seruan Allah dan Rasul adalah jalan menuju kehidupan yang sejati. Kesadaran diri inilah yang menghidupkan jiwa. Tanpa itu, manusia akan terasing dari hati nuraninya sendiri, kehilangan arah, dan mengalami kematian eksistensial sebelum ajal biologisnya tiba," ujar Dr. Irwandi.

Bagi 'Aisyiyah, kesadaran personal ini menjadi motor penggerak keikhlasan dalam berkhidmat di jalur dakwah.

1. Idraakuttaarikh (kesadaran sejarah). Sebagai pemungkas, Dr. Irwandi mengajak jamaah menembus koridor waktu lewat tadabur Surat Al-Anfal ayat 26 mengenai kesadaran sejarah (Idraakuttaarikh). Ia mengingatkan dengan tegas agar warga persyarikatan sekali-kali tidak pernah melupakan akar sejarah pergerakannya.

"Al-Qur'an mengingatkan dengan sangat tegas agar kita menjaga diri dari fitnah atau bencana sosial yang dampaknya tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja. Ketika kemungkaran dan ketidakadilan dibiarkan merajalela, ia akan menggulung siapa saja, termasuk orang-orang shaleh yang memilih diam," papar dosen UIN Bukittinggi itu.

Di sinilah peran historis gerakan dakwah seperti 'Aisyiyah diuji. Melalui amal usaha di bidang pendidikan, santunan anak yatim, hingga pemberdayaan ekonomi umat, 'Aisyiyah mewujudkan kesadaran bahwa seluruh komponen bangsa berada di atas satu "kapal besar" yang sama yang harus diselamatkan bersama-sama.

1. Al-Idraakuljamaa'iyyu (kesadaran sosial). Bergerak pada matra kedua, Dr. Irwandi menghubungkannya dengan Surat Al-Anfal ayat 25 tentang pentingnya kesadaran sosial atau kolektif (Al-Idraakuljamaa'iyyu). Ia mengingatkan umat bahwa kesalehan individu yang bersifat egois tidak akan pernah cukup untuk membentengi masyarakat dari kehancuran bersama.

"Muhammadiyah itu lahir di Kauman Yogyakarta, tetapi ia tumbuh dan membesar di Kauman Padangpanjang ini. Jejak historis ini adalah bukti nyata komitmen ideologis para pendahulu kita," tegas Dr. Irwandi.

Ia mengajak publik melakukan kilas balik ke masa-masa awal perjuangan para perintis persyarikatan di ranah Minang yang bergerak dalam kepayahan, jumlah yang sedikit, serta dilingkupi intimidasi zaman. Namun, hari ini Allah Ta'ala telah membalikkan struktur sejarah tersebut dengan memberikan keteguhan posisi, pertolongan, dan karunia amal usaha yang luas.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa ingatan kolektif atas sejarah ini dihadirkan bukan untuk sekadar romantisasi atau kesombongan institusional. Kesadaran sejarah harus diwujudkan menjadi "syukur yang melahirkan perubahan, yaitu sebuah dorongan moral untuk mengaktualisasikan seluruh modal sosial dan kapital yang dimiliki persyarikatan hari ini demi merancang strategi dakwah kemanusiaan yang jauh lebih progresif di masa depan.

Hadir dalam momen istimewa itu Wakil Walikota Padangpanjang, Allex Saputra, jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pabasko, Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Pabasko, dan Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah Pabasko.

Resepsi Milad ke-109 'Aisyiyah yang dihadiri oleh segenap warga 'Aisyiyah Pabasko ini ditutup dengan sebuah optimisme bahwa dengan merawat ketiga matra kesadaran ini, 'Aisyiyah akan terus kokoh menjadi jangkar dakwah Islam amar ma'ruf nahi munkar di abad keduanya.()

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....