Zainal Abidin Bagir: Retakan Ekologis Ancam Peradaban Manusia

  • 04 Jun 2026 03:38 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Bukittinggi — Krisis lingkungan global yang mengepung bumi saat ini bukan lagi sekadar perkara perubahan iklim atau menyusutnya keanekaragaman hayati. Lebih dari itu,

ia telah menjelma sebagai ancaman eksistensial yang merusak hubungan fitrah antara manusia, kebudayaan, dan alam semesta.

Fenomena mengkhawatirkan ini dikenal sebagai ecological and social rupture atau retakan ekologis dan sosial. Benang merah persoalan tersebut dikupas tuntas oleh akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Abidin Bagir, saat hadir sebagai panelis dalam Annual Meeting Netherlands-Indonesia Consortium for Muslim-Christian Relations (NICMCR).

Forum akademik lintas iman tersebut digelar di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi, Rabu (3/6/2026). Dalam paparannya, Zainal menggarisbawahi bahwa modernitas dan keserakahan eksploitasi telah melahirkan "keretakan metabolik".

Sebuah kondisi memprihatinkan di mana siklus alami alam diputus paksa demi syahwat industri dan keuntungan jangka pendek.

"Ketika alam diperlakukan sekadar sebagai komoditas dan gudang bahan baku, kita sebenarnya sedang menghancurkan fondasi kehidupan kita sendiri," ujar Zainal mengingatkan.

Amnesia Budaya dan Ketimpangan Direktur Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) UGM ini menjelaskan, retakan ekologis secara otomatis akan memicu keretakan sosial yang destruktif. Masyarakat, terutama komunitas lokal dan masyarakat adat, menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Mereka tidak hanya kehilangan ruang hidup fisik, tetapi juga terancam mengalami amnesia budaya.

Ketika tanah, air, dan hutan tempat mereka merawat tradisi hancur, maka pengetahuan lokal, bahasa, nilai spiritual, hingga tatanan sosial yang selama berabad-abad menjaga keseimbangan bumi ikut sirna.

Dampak ganda dari kerusakan ini pada akhirnya melahirkan ketimpangan eko-sosial yang akut, sekaligus menyisakan kecemasan eksistensial bagi umat manusia.

Melalui forum NICMCR di UIN Bukittinggi ini, Zainal mengetuk kesadaran para tokoh lintas agama dan budaya untuk bergerak bersama menambal retakan tersebut.

Menurutnya, ikhtiar pemulihan bumi tidak bisa lagi menggunakan pendekatan kosmetik atau sekadar aksi lingkungan yang dangkal. Umat manusia, tegas dia, harus kembali pada akar masalah dengan merombak cara pandang dunia (worldview).

Menolak antroposentrisme yang serakah, dan beralih pada ekosentrisme—sebuah kesadaran iman dan nalar bahwa manusia adalah bagian utuh dari ciptaan Allah yang wajib menjaga jaring-jaring kehidupan di bumi.()

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....