109 Tahun 'Aisyiyah: Membumikan Cetak Biru Annisa'

  • 24 Mei 2026 11:48 WIB
  •  Bukittinggi

Dr. IRWANDI NASHIR

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh

RRI.CO.ID,Payakumbuh - Gemuruh semangat ribuan kaum ibu memadati Gedung Olahraga (GOR) M. Yamin Kota Payakumbuh, Ahad pagi (25/5/2026). Bagi saya hadir di tengah perhelatan Refleksi dan Milad 'Aisyiyah ke-109 yang dihelat oleh Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Sumatera Barat ini meneguhkan rasa empati yang mendalam. Melihat lautan jilbab yang datang dari berbagai pelosok daerah, saya menyadari bahwa gerakan perempuan ini bukan sekadar perkumpulan biasa. Mereka adalah penggerak nyata yang bekerja di akar rumput, merawat umat dengan penuh keikhlasan.

Momentum Milad ke-109 ini mengusung tema yang sangat krusial: "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian." Saat menyampaikan pidato sambutan sebagai tuan rumah acara bersejarah ini, ingatan saya kembali pada sebuah gagasan yang sempat saya sampaikan di berbagai forum Pengajian Muhammadiyah. Sebuah pemikiran sederhana namun mendesak, yaitu sudah saatnya kita menjadikan Surah An-Nisa’ sebagai kompas atau cetak biru sosial dalam menerjemahkan dakwah kemanusiaan tersebut demi terciptanya perdamaian yang hakiki di tengah masyarakat.

Selama ini, kita kadangkala memperlakukan ayat-ayat suci Al-Qur'an sebatas bacaan spiritual yang menenangkan hati di kala sunyi. Padahal, jika kita telaah lebih dalam, Surah An-Nisa’ menyimpan panduan hidup yang sangat konkret untuk mengatasi berbagai persoalan sosial sehari-hari. Surah ini berbicara tentang keadilan, pembelaan terhadap kaum yang lemah, penghormatan kepada perempuan, serta jaminan sosial bagi mereka yang membutuhkan.

Ketika 'Aisyiyah berkumpul dengan keteguhan hati seperti hari ini, pesan-pesan universal dari surah tersebut terasa menemukan ruhnya yang paling nyata, sekaligus menjadi pilar utama dalam menegakkan perdamaian. Sebab, tidak akan ada perdamaian sejati tanpa adanya keadilan sosial dan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.

Jejak Sejarah Pengabdian di Kota Payakumbuh

Muhammadiyah dan 'Aisyiyah memiliki sejarah panjang dalam menerjemahkan teologi menjadi aksi nyata. Di kabupaten Lima Puluh Kota dan kota Payakumbuh, misalnya, jejak pengabdian itu sudah terpahat sejak lama. Kita tentu ingat, jauh sebelum kemerdekaan, spirit melindungi kaum lemah dan anak yatim telah mendarat dalam aksi nyata.

Tepat pada pertengahan tahun 1942, tokoh-tokoh sosial dari 'Aisyiyah Cabang Payakumbuh bergerak cepat. Pada 1 Agustus 1942, mereka mulai menghimpun anak-anak yatim yang terlantar untuk diasuh di Rumah Panti Asuhan Pertolongan Kesengsaraan Umum (PKU) 'Aisyiyah-Muhammadiyah Komitmen ini tidak pernah luntur oleh zaman dan badai politik. Ketika pergolakan melanda pada tahun 1958 dan situasi menjadi tidak aman, anak-anak yatim tersebut dievakuasi demi keselamatan mereka. Mereka dibawa untuk diasuh di kediaman tokoh legendaris 'Aisyiyah Payakumbuh, Adang Hj. Fathimah Djalil, di bawah naungan kelembagaan Panti Asuhan 'Aisyiyah Cabang Payakumbuh.

Pada tahun 1951, dengan keterbatasan alat namun bermodal iman yang kokoh, tokoh-tokoh 'Aisyiyah berhasil mendirikan Rumah Sakit Bersalin Pusat Kesengsaraan Umum (PKU) 'Aisyiyah Cabang Payakumbuh. Kehadiran rumah sakit bersalin pada masa awal kemerdekaan itu adalah bukti autentik bagaimana spirit Surah An-Nisa’, yaitu melindungi kaum perempuan dan menjamin keselamatan generasi penerus langsung diwujudkan dalam bentuk amal usaha yang menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat. Rumah panti asuhan dan rumah sakit tersebut menjadi saksi bahwa sejak dahulu, 'Aisyiyah tidak pernah tinggal diam melihat kesulitan sesama; sebuah manifestasi nyata dari dakwah kemanusiaan yang melintasi zaman.

Tantangan Baru dan Urgensi Kaderisasi

Semangat tahun 1942 dan 1951 itulah yang harus kita hidupkan kembali hari ini dengan tantangan zaman yang tentu saja berbeda. Kita tidak boleh lagi bergerak secara mandiri di sudut-sudut sepi saja. Muhammadiyah dan 'Aisyiyah harus melangkah lebih maju menjadi mitra dialog yang sejajar bagi pemerintah. Kita harus aktif menyodorkan solusi konkret untuk memperbaiki tatanan sosial, bukan sekadar melempar kritik atau tuntutan tanpa jalan keluar.

Namun, agar dakwah kemanusiaan ini dapat berdampak panjang dan berkelanjutan, 'Aisyiyah tidak boleh melupakan aspek regenerasi. Di sinilah letak urgensi kaderisasi yang mutlak melalui Nasyiatul Aisyiyah (NA). Sebagai organisasi otonom putri Muhammadiyah, Nasyiatul 'Aisyiyah adalah laboratorium perkaderan yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan membumikan cetak biru An-Nisa’ di masa depan.

Tanpa kaderisasi yang terstruktur dan progresif di tubuh NA, gerakan dakwah kemanusiaan 'Aisyiyah berisiko kehilangan momentumnya di masa depan.Nasyiatul 'Aisyiyah terus bergerak dengan cita-cita yang jelas, yaitu: Terbentuknya putri Islam yang bermoral, berkemajuan, dan mandiri sebagai pilar peradaban.

Lima Langkah Nyata Gerakan An-Nisa'

Untuk mewujudkan sinergi gerakan tersebut, setidaknya ada lima langkah nyata yang bisa kita jalankan bersama berdasarkan tuntunan Surah An-Nisa’ dan semangat Milad ke-109:

Pertama: Memperkuat perlindungan bagi anak yatim dan kelompok masyarakat yang lemah. Merawat memori sejarah Panti Asuhan 'Aisyiyah Payakumbuh, kita harus memastikan anak-anak yang kehilangan orang tua tidak telantar, baik dari segi makanan, kasih sayang, maupun akses pendidikan yang layak.

Kedua:Memberikan penghormatan dan ruang yang adil bagi kaum perempuan. Keberadaan perempuan dalam ranah pendidikan, kepemimpinan, dan perlindungan hukum harus dijamin agar mereka mampu mendidik generasi tanpa rasa takut atau diskriminasi. Di sinilah kader-kader muda Nasyiatul Aisyiyah harus mulai mengambil peran strategis.

Ketiga: Membentengi keluarga dari kerusakan moral. Saat ini, tantangan bagi generasi muda sangat berat, mulai dari pengaruh gawai, narkoba, hingga penyimpangan sosial seperti LGBT. Kita membutuhkan pendekatan asuhan yang hangat di dalam rumah, yang berakar pada nilai-nilai agama namun disampaikan dengan bahasa yang ramah anak.

Keempat: Menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kepedulian antartetangga berbasis komunitas masjid. Sesuai amanat Surah An-Nisa’ ayat 36, jangan sampai ada tetangga atau musafir yang kelaparan di sekitar kita, sementara kita merasa nyaman dengan kesalehan pribadi kita sendiri.

Kelima: Membuka mata dan mengulurkan tangan bagi saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan mental maupun fisik, dengan memberikan mereka ruang hidup yang layak dan mandiri.

Jika kelima program ini kita kemas dengan baik lalu kita tawarkan kepada pengambil kebijakan di pemerintahan, maka pola hubungan antara organisasi keagamaan dan negara akan berubah. Kita tidak lagi dipandang sebagai kelompok yang berseberangan, melainkan sebagai sahabat yang membawa solusi matang demi kesejahteraan rakyat. Kita datang untuk bersama-sama membangun ekosistem kehidupan yang lebih baik, di mana semua pihak saling mendukung demi mewujudkan perdamaian yang sejati.

Melihat antusiasme ribuan ibu-ibu 'Aisyiyah dan para kader muda yang hadir di GOR M. Yamin Ahad itu, tak berlebihan jika ada optimisme bahwa tangan-tangan terampil mereka diharapkan nilai-nilai luhur dari Surah An-Nisa’ kembali hidup. Mereka merawat sekolah, mengelola panti asuhan, dan menghidupkan ekonomi keluarga melalui usaha-usaha kecil.

Dari Payakumbuh, mari kita perkokoh dakwah kemanusiaan ini untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang hadir membawa kedamaian dan solusi nyata bagi seluruh umat manusia. Tidak boleh ada satu pun jiwa yang tertinggal dalam perjalanan menuju masyarakat yang adil, damai, dan makmur. ( Dr. Irwandi Nashir )

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....