Mendaki Tangga Ruhani di Masjid Taqwa Koto Tuo
- 12 Mei 2026 13:44 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Salimpauang – Udara dingin yang mengepung Nagari Salimpaung malam itu seolah kalah oleh hangatnya semangat yang meluap di Masjid Taqwa Koto Tuo. Senin malam (11/5), tak kurang dari seribu jamaah menyemut, mengisi setiap jengkal ruang hingga ke pelataran. Mereka bukan sekadar datang untuk duduk diam, melainkan tengah merayakan sebuah konsistensi yang jarang ditemui: putaran pengajian ke-667.

"Ini adalah bukti cinta jamaah pada ilmu. Meski jarak membentang, semangat mereka tak pernah surut," ujar Drs. Maswardi, Ketua BKMT Tanah Datar, dengan rona bangga. Di hadapan Camat Salimpaung,Kartoni,MH., dan deretan tokoh masyarakat, Ustadz H. Maswardi menyaksikan betapa organisasi ini telah menjadi urat nadi spiritualitas warga Luhak Nan Tuo.
Arsitektur Jiwa dalam Ibadah Qurban
Di mimbar, Dr. H. Irwandi Nashir tampil dengan pembawaan yang tenang namun tajam. Sosok yang dikenal sebagai dosen UIN Bukittinggi sekaligus Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Payakumbuh ini membawa narasi besar bertajuk Binaa’ul Ma’aarij: Pendakian Rohani Menuju Allah Ta’ala.

Ustadz Irwandi Nashir yang juga putera nagari Salimpaung membedah kesempurnaan rohani ini melalui lensa syariat qurban. Ia menjelaskan bahwa Allah Ta’ala memadukan tingkatan jiwa manusia dengan filosofi penyembelihan hewan qurban dalam Surat Al-Hajj, sebagai simbol bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah darah atau dagingnya, melainkan ketakwaan dan kualitas jiwa pelakunya:
- Ikhbat (Ketundukan): Inilah pondasi awal yang termaktub dalam QS. Al-Hajj: 34-35. Sebelum hewan disembelih, ego manusia harus "disembelih" terlebih dahulu melalui sifat rendah hati di hadapan-Nya. Seorang Mukhbitiin ditandai dengan hati yang bergetar saat asma Allah disebut, ketangguhan mental dalam bersabar, serta disiplin menjaga frekuensi hubungan melalui shalat dan berbagi rezeki.
- Syukur (Pengakuan): Berlanjut pada ayat 36, Allah menyebutkan proses pemanfaatan hewan qurban sebagai simbol syukur. Di level ini, manusia mendaki dengan kesadaran bahwa segala nikmat adalah sarana ketaatan. Syukur adalah mesin yang menggerakkan hamba untuk memberi makan mereka yang membutuhkan, baik yang tidak meminta-minta maupun yang terang-terangan memerlukan bantuan.
- Ihsan (Puncak Pengabdian):Puncak pendakian ini (QS. Al-Hajj: 37) ditegaskan dengan pernyataan bahwa "ketakwaan kitalah yang sampai kepada-Nya". Menjadi Muhsinin berarti mencapai derajat Ihsan, di mana seluruh ritual lahiriah—seperti qurban—dilakukan dengan kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan. Inilah titik di mana ibadah mencapai kesempurnaan hakiki, menyatukan ketaatan vertikal dengan manfaat horizontal.
Solidaritas di Atas Roda
Fenomena spiritual ini kian unik dengan hadirnya solidaritas sosial yang nyata. Tengoklah "Persatuan Sopir BKMT" yang bersiaga di halaman masjid. Mereka adalah para pahlawan di balik layar yang memastikan rombongan motor maupun mobil tiba tepat waktu. Bagi para sopir ini, mengantar jamaah bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari pengabdian yang menjadi perantara bagi ribuan orang untuk menjemput hidayah.
Malam itu, di bawah kubah Masjid Taqwa, pengajian bukan sekadar transfer narasi agama, melainkan sebuah simfoni yang memadukan kerendahan hati, rasa terima kasih, dan pengabdian terbaik. Sebuah pendakian kolektif yang masih terus berlanjut, menuju puncak hakiki di hadapan Sang Pencipta.()
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....