Model Silvie Menguatkan Kesadaran Petani Hadapi Risiko Pestisida

  • 07 Mei 2026 04:38 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID,Agam — Siang itu, halaman kantor Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Baso terasa lebih hidup dari biasanya. Sejumlah perempuan dari Kelompok Wanita Tani (KWT) “Kapau Sakato” duduk melingkar, sebagian membawa catatan kecil, sebagian lagi menyimak dengan saksama.

Di ruang sederhana itu, sebuah gagasan berbasis riset diperkenalkan—Model SILViE.

Model ini diperkenalkan langsung oleh Silvia, mahasiswa program doktor Ilmu Lingkungan Universitas Negeri Padang.

Bagi Silvia yang juga dosen Universitas Fort de Cock Bukittinggi, forum ini bukan sekadar ajang berbagi hasil penelitian, melainkan ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup petani.

Model SILViE—Strategi Inklusi Lingkungan via Ekofeminisme—lahir dari penelitian disertasi yang ia kembangkan melalui pendekatan riset dan pengembangan (RnD) dengan tahapan 4D: Define, Design, Develop, hingga Disseminate. Dalam prosesnya, Silvia dibimbing oleh promotor Prof. Dr. Nurhasan Syah dan ko-promotor Dr. dr. Elsa Yuniarti, yang mengarahkan hingga model ini siap diterapkan di tengah masyarakat.Namun, di Baso, model ini menemukan maknanya yang lebih hidup.

Perempuan dalam Lingkar Pertanian

Model SILViE bertumpu pada pendekatan ekofeminisme, yang menempatkan perempuan sebagai aktor penting dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Di tangan para petani perempuan, konsep ini tidak lagi terasa abstrak.

Mereka bukan hanya pekerja di lahan, tetapi juga penjaga kesehatan keluarga dan pengelola lingkungan dalam keseharian.

“Selama ini kami pakai pestisida ya sekadar ikut kebiasaan,” ujar salah seorang anggota KWT. Kalimat sederhana itu mencerminkan realitas yang selama ini berlangsung—praktik pertanian yang berjalan tanpa cukup kesadaran akan risiko.

Dari Kebiasaan ke Kesadaran

Diskusi berlangsung hangat dan partisipatif.

Para petani diajak merefleksikan pengalaman mereka sendiri: menyemprot tanpa masker, mencampur bahan kimia tanpa takaran pasti, hingga ketergantungan pada pestisida.

Melalui pendekatan keselamatan kerja pertanian (agricultural safety), mereka mulai memahami bahwa bertani bukan hanya soal menjaga tanaman tetap subur, tetapi juga menjaga kesehatan diri.

Lebih jauh, pembahasan menyentuh aspek ekologis. Menurut Silvia, penggunaan pestisida yang berlebihan ternyata tidak hanya berdampak pada tubuh manusia, tetapi juga pada tanah.

Tanaman menjadi “dimanjakan”, sementara tanah perlahan kehilangan keseimbangan alaminya.

Jika terus berlangsung, kondisi ini berpotensi menurunkan kesuburan tanah dan mengancam keberlanjutan pertanian.

Perubahan Kecil, Dampak Besar

Dari ruang diskusi itu, perubahan mulai tumbuh. Beberapa petani menyatakan akan mulai menggunakan masker saat penyemprotan.

Ada pula yang berkomitmen lebih berhati-hati dalam penggunaan pestisida.

Langkah-langkah sederhana ini menjadi titik awal transformasi.

Penyuluh pertanian, Sunaryo, menilai pendekatan SILViE menghadirkan perspektif baru dalam penyuluhan. Keterkaitan antara kesehatan, lingkungan, dan peran perempuan menjadi lebih mudah dipahami karena dekat dengan realitas kehidupan petani.

i

Sebagai bagian dari diseminasi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan media edukasi berupa poster yang ditempatkan di lokasi strategis. Visual sederhana dan bahasa yang mudah dipahami membantu memperluas akses informasi.

Selain itu, Silvia juga membagikan buku panduan bagi penyuluh pertanian sebagai acuan implementasi di lapangan. Turut diperkenalkan pula materi bertajuk Ekofeminisme Pertanian Minangkabau, yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dengan pendekatan kesehatan lingkungan dan keselamatan kerja.

Melalui kombinasi penyuluhan partisipatif, media visual, dan bahan ajar tertulis, Model SILViE tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan sikap dan perilaku secara bertahap.

Harapan dari Baso

Dari Kecamatan Baso, sebuah harapan perlahan tumbuh. Model SILViE menunjukkan bahwa inovasi tidak harus selalu datang dalam bentuk teknologi canggih, tetapi bisa berangkat dari kesadaran, pengalaman, dan peran komunitas.

Perempuan, dalam hal ini, menjadi penggerak utama perubahan—menjaga ladang sekaligus menjaga masa depan.

Ke depan, model ini diharapkan dapat diadopsi lebih luas sebagai strategi intervensi kesehatan lingkungan berbasis komunitas. Tidak hanya untuk melindungi petani hari ini, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan pertanian bagi generasi mendatang.()

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....