Mewaspadai Kekerasan Seksual Verbal di Era Digital

  • 04 Mei 2026 11:01 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Perilaku kekerasan adalah tindakan yang menyakiti, menakut-nakuti, merendahkan, atau membahayakan orang lain maupun diri sendiri. Tidak harus selalu memukul dan menendang tapi kata-kata yang diucapkan dan dituliskan juga bisa menjadi kekerasan.

Setiap kekerasan yang dilakukan akan menimbulkan konsekuensi negatif bagi korban berupa luka. Dan tidak semua luka terlihat, ada luka yang lahir dari kata-kata, gambar, stiker, meme dan tawa di grup chat, yang dianggap candaan biasa, tetapi diam-diam merobek rasa aman seseorang dan menghancurkan harga diri korban.

Di era digital, kekerasan seksual semakin sering hadir dalam bentuk yang tidak kasat mata. Ia tidak selalu berupa sentuhan atau tindakan fisik. Sering kali, ia muncul dalam bentuk komentar seksual, candaan yang merendahkan tubuh, objektifikasi, atau isi percakapan di grup yang mengubah seseorang menjadi bahan hiburan. Disinilah kita perlu memahami bahwa pelecehan seksual verbal dan digital adalah bentuk kekerasan yang nyata.

Pelecehan seksual tidak selalu fisik

Kita masih sering terjebak pada pemahaman bahwa kekerasan seksual baru dianggap serius bila ada kontak fisik. Padahal secara psikologis, kata-kata pun dapat melukai. Komentar seksual tanpa persetujuan, candaan cabul, body shaming bernuansa seksual, atau membahas seseorang sebagai objek fantasi seksual adalah bentuk kekerasan verbal dan digital. Kekerasan tidak selalu menyentuh tubuh, tetapi bisa langsung melukai jiwa.

Kekerasan Seksual sering terjadi di grup

Salah satu alasan mengapa perilaku ini sering muncul di grup adalah karena adanya dinamika psikologi kelompok. Ketika satu orang memulai candaan yang merendahkan, lalu yang lain tertawa, menyetujui, atau ikut menambahkan komentar, maka perilaku tersebut terasa semakin “normal”. Ini disebut group reinforcement atau penguatan kelompok.

Sesuatu yang salah bisa terasa biasa ketika ramai-ramai ditertawakan. Semakin banyak validasi dari kelompok, semakin tipis batas moral seseorang. Kadang seseorang tidak berubah menjadi buruk sendirian, tetapi berubah karena budaya kelompok yang membiarkannya.

Kekerasan seksual verbal bukan candaan

Kalimat yang paling sering muncul adalah “kan cuma bercanda”, “jangan baper”, “serius amat”. Padahal justru kalimat-kalimat ini sering menjadi cara untuk menutupi kekerasan. Secara psikologis, ini adalah bentuk moral disengagement, yaitu ketika seseorang melepaskan perilakunya dari tanggung jawab moral. Candaan berhenti menjadi candaan ketika orang lain menjadi korbannya. Humor yang melukai martabat bukan humor, tetapi kekerasan yang dibungkus tawa.

Dampak Psikologis pada Korban

Seseorang yang mengalami pelecehan baik verbal, fisik, seksual, digital/cyber akan mengalami luka psikologis yang berat. Luka psikologis tidak selalu ditentukan oleh bentuk tindakan, tetapi oleh makna pengalaman yang dirasakan korban.

Pelecehan verbal atau digital dapat memberikan dampak yang sangat besar karena korban merasa direndahkan, dipermalukan, dijadikan objek, dan kehilangan rasa aman. Bahkan dalam beberapa kasus, efek emosionalnya bisa setara atau sangat berat, terutama bila percakapan tersebut menyebar luas dan diketahui banyak orang. Luka fisik mungkin tidak ada, tetapi luka pada harga diri, martabat, dan rasa aman bisa sangat dalam.

Secara psikologis, yang terluka adalah self-esteem, sense of safety, trust terhadap lingkungan sosial, body image dan harga diri. Korban bisa terus mengulang percakapan tersebut dalam pikirannya (intrusive thought) menjadi PTSD (post traumatic stress disorder) yang tentunya dapat berdampak pada seluruh aspek kehidupannya di masa depan. (ALT/YPA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....