Kamu Suka Baju Rajut? Ini Cerita Panjang Dibalik Baju Rajut
- 28 Apr 2026 07:49 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Sejarah pakaian rajut (knitwear) berawal dari teknik membuat kain dengan cara mengaitkan benang menjadi loop-loop yang saling terhubung. Berbeda dengan tenun, rajut lebih fleksibel dan elastis. Teknik ini dipercaya sudah ada sejak ribuan tahun lalu, meskipun bukti arkeologis yang jelas mulai ditemukan sekitar awal Masehi.
Bukti tertua pakaian rajut ditemukan di wilayah Timur Tengah, khususnya di Mesir, sekitar abad ke-3 hingga ke-5 Masehi. Artefak seperti kaus kaki rajut menunjukkan bahwa teknik ini sudah cukup maju, bahkan menggunakan pola dan warna yang kompleks. Kaus kaki tersebut dibuat dengan teknik yang menyerupai rajut modern.
Dari Timur Tengah, teknik rajut menyebar ke Eropa melalui jalur perdagangan dan penaklukan. Pada abad pertengahan, rajut mulai dikenal luas di Spanyol dan Italia, lalu menyebar ke wilayah Eropa lainnya. Saat itu, rajutan menjadi barang mewah yang sering digunakan oleh kalangan bangsawan. Pada abad ke-14 hingga ke-16, industri rajut mulai berkembang pesat di Eropa. Guild atau serikat pengrajin rajut bermunculan, terutama di negara seperti Inggris dan Prancis. Profesi perajut menjadi pekerjaan yang terorganisir, dan kualitas produk sangat dijaga.
Penemuan mesin rajut pertama oleh William Lee pada tahun 1589 menjadi titik penting dalam sejarah rajut. Mesin ini memungkinkan produksi rajutan lebih cepat dan konsisten dibandingkan dengan rajut tangan, meskipun awalnya ditolak oleh kerajaan karena dianggap mengancam pekerjaan pengrajin. Memasuki masa Revolusi Industri pada abad ke-18 dan ke-19, teknologi rajut berkembang pesat. Mesin rajut semakin canggih dan digunakan secara luas di pabrik-pabrik. Produksi pakaian rajut menjadi lebih murah dan tersedia untuk masyarakat luas, tidak lagi hanya untuk kalangan elite.
Pada abad ke-20, pakaian rajut menjadi bagian penting dari fashion global. Desainer terkenal seperti Coco Chanel mempopulerkan penggunaan bahan rajut dalam busana wanita, menjadikannya simbol kenyamanan sekaligus gaya modern. Selama Perang Dunia I dan II, pakaian rajut memiliki peran praktis dan simbolis. Banyak masyarakat, terutama perempuan, merajut pakaian seperti kaus kaki dan sweater untuk tentara. Rajut menjadi bagian dari upaya solidaritas dan dukungan terhadap perang.
Memasuki era modern, pakaian rajut berkembang dalam berbagai bentuk dan fungsi. Dari pakaian kasual hingga high fashion, rajutan digunakan karena sifatnya yang nyaman, fleksibel, dan estetis. Teknologi seperti rajut komputer (computerized knitting) memungkinkan desain yang lebih kompleks.
Saat ini, industri rajut menjadi bagian besar dari industri tekstil global, dengan pusat produksi di berbagai negara seperti China, India, dan Bangladesh. Selain itu, tren rajut tangan kembali populer sebagai bagian dari gerakan slow fashion dan keberlanjutan, di mana orang menghargai proses pembuatan yang lebih personal dan ramah lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....