Kweekschool Bukittinggi Ungkap Sejarah Besar Bahasa Indonesia
- 25 Apr 2026 08:24 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Sebuah narasi sejarah yang sarat makna kembali mengemuka dari jantung Ranah Minang.

Wali Kota Bukittinggi H.M Ramlan Nurmatias,SH Datuak Nan Basa menegaskan bahwa akar lahirnya bahasa persatuan Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran Kweekschool—lembaga pendidikan yang kini dikenal sebagai SMAN 2 Bukittinggi.
Pernyataan itu disampaikan dalam Seminar Kebangsaan bertema “Jejak Intelektual, Pemikiran dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sekolah Rajo”, yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 170 tahun Kweekschool, salah satu institusi pendidikan tertua di Sumatra.
Dalam pemaparannya, Ramlan mengurai jejak panjang bahasa Indonesia yang bermula dari Bahasa Melayu dengan ejaan Ejaan van Ophuijsen. Ia menyebut, sebelum lahirnya Ejaan Yang Disempurnakan pada 1972, fondasi bahasa persatuan telah lebih dulu dirintis oleh para intelektual di Kweekschool.
“Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia dikembangkan melalui ejaan van Ophuijsen. Proses itu melibatkan tokoh-tokoh seperti Nawawi Soetan Makmoer dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Dan semua itu terjadi di Kweekschool Bukittinggi,” tegasnya.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh sejarawan sekaligus jurnalis senior, Hasril Chaniago, yang menjadi salah satu narasumber utama. Ia bahkan menyampaikan pandangan yang cukup tajam: tanpa Kweekschool, bahasa Indonesia mungkin tidak akan lahir dalam bentuk yang kita kenal hari ini.
“Kweekschool bukan sekadar sekolah. Ia adalah pusat lahirnya gagasan, tempat bertemunya pemikiran, dan ruang pembentukan identitas bangsa. Bahasa Indonesia adalah salah satu hasil paling monumental dari proses intelektual itu,” ungkap Hasril.
Seminar ini tidak sekadar menjadi forum akademik, tetapi juga ruang refleksi kolektif atas kontribusi besar dunia pendidikan terhadap pembentukan identitas nasional. Hadir pula narasumber lainnya seperti M. Isa Gautama dan Dedi Yusmen yang mengupas peran sejarah dari perspektif kekinian.
Dedi Yusmen menekankan bahwa sejarah tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu. “Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai itu hidup dalam tindakan hari ini. Kweekschool mengajarkan integritas, kecerdasan, dan keberanian berpikir—nilai yang harus terus kita wariskan,” ujarnya.
Senada dengan itu, M. Isa Gautama mengingatkan bahwa pemahaman terhadap sejarah menjadi fondasi dalam merancang masa depan. “Kita tidak bisa melangkah jauh tanpa mengetahui dari mana kita berasal. Sejarah memberi arah, sekaligus makna,” katanya.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh IASMA Birugo sebagai bagian dari rangkaian menuju perhelatan besar Anak Sikola Radjo Baralek Gadang. Sekretaris Pengurus Pusat IASMA Birugo, Febri Zulhenda, menyebut momentum 170 tahun Kweekschool sebagai refleksi sekaligus panggilan tanggung jawab bagi seluruh alumni dan pemangku kepentingan.
“Ini bukan sekadar perayaan usia. Ini adalah pengingat bahwa kita memiliki warisan besar yang harus dijaga dan dikembangkan. Kweekschool telah melahirkan tokoh-tokoh besar, dan kini giliran kita melanjutkan estafet itu,” ujarnya.
Dengan sejarah panjang yang melekat kuat, Kweekschool—atau Sekolah Rajo—bukan hanya simbol pendidikan, tetapi juga saksi lahirnya identitas kebangsaan. Dari ruang-ruang kelas sederhana di masa kolonial, lahir gagasan yang kemudian menjelma menjadi bahasa pemersatu lebih dari 270 juta jiwa.
Di tengah arus globalisasi dan perubahan zaman, refleksi ini menjadi semakin relevan. Bukittinggi kembali mengingatkan Indonesia: bahwa jati diri bangsa tidak lahir secara instan, melainkan ditempa oleh sejarah, pemikiran, dan dedikasi panjang para pendahulu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....