Kenapa Ikan Sapu-Sapu Disebut Hama?

  • 18 Apr 2026 15:44 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Ikan sapu-sapu memiliki ciri tubuh keras seperti pelat, mulut berbentuk pengisap, dan mampu bertahan di lingkungan air yang kotor atau minim oksigen. Kemampuan adaptasi yang tinggi membuat ikan ini mudah berkembang biak di berbagai perairan, termasuk sungai dan waduk di Indonesia.

Namun, justru keunggulan tersebut menjadikan ikan sapu-sapu berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem perairan. Mereka dapat bersaing dengan ikan lokal dalam memperoleh makanan dan ruang hidup, bahkan memakan telur ikan lain sehingga menghambat regenerasi spesies asli.

Selain itu, kebiasaan ikan sapu-sapu yang menggali lubang di dasar atau tepi perairan untuk berkembang biak dapat merusak struktur tanah dan mempercepat erosi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu kualitas habitat bagi organisme lain yang bergantung pada kestabilan lingkungan tersebut.

Populasi ikan sapu-sapu yang tidak terkendali juga menjadi tantangan bagi pengelolaan sumber daya perikanan. Karena minimnya pemanfaatan oleh masyarakat, jumlahnya cenderung terus meningkat tanpa adanya kontrol alami yang memadai.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran masyarakat untuk tidak melepaskan ikan ini ke perairan umum serta upaya pengendalian yang tepat. Dengan langkah tersebut, dampak negatif ikan sapu-sapu terhadap ekosistem dapat diminimalkan dan keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Ikan sapu-sapu (pleco) sering disebut hama, tapi sebenarnya istilah itu lebih karena dampaknya terhadap lingkungan, bukan karena ikannya “jahat”. Ada beberapa alasan utama:

1. Spesies invasif

Ikan ini bukan asli perairan Indonesia. Saat dilepas ke sungai atau danau, mereka berkembang biak sangat cepat dan sulit dikendalikan.

2. Mengganggu ekosistem

Sapu-sapu memakan alga, telur ikan lain, bahkan organisme kecil yang menjadi makanan ikan lokal. Akibatnya, ikan asli bisa kekurangan makanan.

3. Merusak habitat

Mereka sering menggali lubang di tepi sungai untuk bertelur. Ini bisa menyebabkan erosi dan merusak struktur tanah di pinggir sungai.

4. Minim predator alami

Karena tubuhnya keras dan berduri, tidak banyak hewan yang memangsa ikan ini. Populasinya jadi mudah meledak.

5. Tidak bernilai konsumsi tinggi

Di banyak daerah, ikan ini jarang dimakan karena dagingnya sedikit dan teksturnya kurang disukai, sehingga tidak membantu mengurangi populasinya.

Jadi, disebut “hama” karena keberadaannya merugikan keseimbangan ekosistem dan sulit dikendalikan, bukan karena sifatnya berbahaya bagi manusia secara langsung. (TW/YPA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....