Erianjoni Dari Kemiskinan Desa ke Puncak Profesor Sosiologi Mengguncang Dunia
- 11 Apr 2026 16:10 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Suasana khidmat sekaligus haru menyelimuti Auditorium Kampus Air Tawar Universitas Negeri Padang pada Selasa, 7 April 2026. Di tempat inilah, delapan Guru Besar baru resmi dikukuhkan di Gedung Audiotoroum Kampus UNP di Padang
Sebuah momentum penting yang menegaskan komitmen UNP dalam memperkuat kualitas akademik. Dengan penambahan ini, UNP kini memiliki total 168 profesor yang tersebar di delapan fakultas.

Di antara nama-nama yang dikukuhkan, sosok Erianjoni menjadi salah satu yang paling menyentuh perhatian.
Bukan hanya karena keilmuan yang ia tekuni, tetapi karena perjalanan hidupnya yang sarat perjuangan—sebuah kisah nyata tentang mimpi besar yang tumbuh dari kesederhanaan.
Anak Petani yang Menembus Batas
Lahir di Baso, Kabupaten Agam pada 28 Februari 1974, Erianjoni tumbuh dalam keluarga petani sederhana. Masa kecilnya dihabiskan di tengah ladang kopi dan pisang, tempat kedua orang tuanya menggantungkan hidup.
Di balik keterbatasan ekonomi, tersimpan tekad besar yang terus menyala. Ia memulai pendidikan di SDN Baringin Anam Baso, lalu melanjutkan ke MTsN Canduang, sebelum akhirnya diterima di MAN Koto Baru Padang Panjang pada tahun 1993.
Perjalanan akademiknya berlanjut ke bangku perguruan tinggi. Ia menempuh studi S1 di Program Studi Sosiologi Universitas Andalas dan lulus pada 1998 sebagai lulusan terbaik—sebuah capaian yang menjadi titik awal pengabdiannya di dunia pendidikan.
Namun, di balik gelar itu, ada kisah yang tak pernah ia lupakan.
“Dengan berladang kopi dan pisang, orang tua kami bisa mengantarkan empat anaknya menjadi sarjana,” ungkapnya dalam nada penuh haru.

Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa besar pengorbanan keluarga dalam membentuk jalan hidupnya.
Konsistensi dalam Dunia Akademik
Setelah menyelesaikan S1, Erianjoni langsung mengabdikan diri sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial UNP.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Sosiologi di FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan lulus dengan predikat cumlaude pada 2006.
Tak berhenti di sana, ia meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Pendidikan dari Pascasarjana UNP pada 2014—sebuah bukti konsistensi dan ketekunan dalam mengembangkan diri.
Kini, ia resmi menyandang gelar Guru Besar dengan kepakaran di bidang Pembelajaran Sosiologi pada Program Studi Pendidikan Sosiologi juga saat ini diamanahkan sebagai Sekretaris Universitas Negeri Padang (UNP)
Akademisi, Pemimpin, dan Intelektual Publik
Perjalanan Prof. Erianjoni tidak hanya berhenti di ruang kelas. Ia dikenal sebagai sosok akademisi yang aktif dalam berbagai peran strategis di lingkungan kampus.
Mulai dari Ketua Laboratorium Sosiologi, Staf Ahli Rektor, hingga dipercaya sebagai Sekretaris Universitas sejak tahun 2022—jabatan penting yang diembannya seiring transformasi UNP menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH).
Di luar jabatan struktural, ia juga memimpin Redaksi Majalah UNP, menjadi Ketua PPID, serta aktif dalam berbagai forum akademik dan publik.
Produktivitasnya pun tak diragukan. Ia telah menulis lebih dari 10 buku, puluhan artikel ilmiah dan opini, serta menjadi narasumber di berbagai media—mulai dari radio lokal hingga televisi nasional.
Ia kerap diminta pandangannya dalam isu-isu sosial, kejahatan, hingga perilaku menyimpang di masyarakat.
Sosiologi yang Membumi.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Erianjoni menyampaikan gagasan yang menggugah. Ia menekankan pentingnya pembelajaran sosiologi yang kontekstual—tidak semata-mata mengadopsi perspektif Barat.
Menurutnya, sosiologi harus “membumi”, berakar pada realitas sosial masyarakat Indonesia, khususnya budaya Minangkabau.
Ia mengkritik kecenderungan pengajaran yang terlalu Eropasentris dan mengabaikan konteks lokal.
“Sosiologi harus diajarkan sesuai dengan realitas sosial tempat peserta didik hidup. Dengan begitu, ilmu ini benar-benar membentuk karakter, pengetahuan, dan keterampilan yang relevan,” tegasnya.
Gagasan ini disambut sebagai angin segar dalam dunia pendidikan, terutama dalam upaya membangun sistem pembelajaran yang lebih inklusif dan berakar pada kearifan lokal.
Simbol Harapan dan Inspirasi
Kisah hidup Prof. Erianjoni bukan sekadar perjalanan akademik. Ia adalah simbol harapan—bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih puncak tertinggi.
Dari ladang sederhana di Baso hingga podium kehormatan sebagai profesor, ia membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan doa mampu mengubah nasib.
Di tengah gemerlap dunia akademik, ia tetap membawa nilai-nilai kesederhanaan dan keteguhan hati yang ditanamkan oleh orang tuanya.
Dan hari itu, di Auditorium UNP, bukan hanya gelar profesor yang dikukuhkan—tetapi juga sebuah kisah inspiratif yang akan terus hidup, menginspirasi generasi demi generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....